Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (9): Bulan Madu Nabi Adam As. dengan Siti Hawa

TATKALA Nabi Adam As. bersama Siti Hawa sampai di surga, mereka melihat ranjang pengantin dari mutiara yang dilengkapi dengan 700 kursi dari mutiara merah dan di atasnya terdapat selimut dari sutra. Lalu malaikat berkata, “Wahai Adam dan Hawa, mendekatlah ke sini.”
Turunlah mereka berdua lalu duduk di atas pelaminan. Kemudian didatangkan kepada mereka dua dompol anggur yang setiap dompolnya sepanjang kira-kira perjalanan satu hari satu malam. Mereka makan dan minum berpesta ria di pertamanan surga. Jika Nabi Adam As. ingin bersenggama bersama Hawa, maka mereka masuk ke sebuah kubah yang terbuat dari mutiara dan batu zabarjad dan dipasanglah korden-korden sutra. Jika Siti Hawa berjalan maka di belakangnya diiringi para bidadari yang sangat banyak.
Ibnu Sunni mengatakan bahwa buah surga yang pertamakali dimakan Nabi Adam As. adalah buah bidara. Sedangkan Ibnu Abbas Ra. mengatakan bahwa buah yang pertamakali mereka makan adalah anggur. Dan yang terakhir mereka makan adalah buah jagung atau gandum, seperti penjelasan yang akan datang.
Di dalam surga mereka minum arak surga. Jika mereka meminumnya maka diliputi penuh kebahagiaan. Barangsiapa yang mencoba meminum arak dunia maka ia tidak bisa mencicipi minuman arak surga.
Wahb bin Munabbih berkata, “Petani jagung dan gandum akan senantiasa menghadapi kepayahan dan kerepotan sejak dari menanamnya, menuainya hingga menjadikannya tepung. Karena jagung dan gandum adalah makanan yang pertamakali dimakan atas kemaksiatan.”
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa sesungguhnya yang pertamakali dimakan oleh orang-orang mukmin di surga adalah buah anggur. Sedangkan an-Naisaburi berkata bahwa yang pertamakali dimakan adalah hatinya ikan penyangga bumi, yang dengannya penduduk surga tahu masa berakhirnya dunia. [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (8): Meriahnya Perkawinan Adam As. dengan Siti Hawa

TATKALA Allah Swt. mengusap punggung Nabi Adam As. maka keluarlah benda seperti mutiara yang terpampang gambar anak cucunya, yang berwarna putih dan hitam, pria dan wanita. Kemudian Allah Swt. menuangkan cahaya-Nya. Dengan cahaya itu siapapun yang mengenainya maka ia adalah mukmin. Dan bagi yang tidak terkena cahaya itu maka tergolong orang kafir. Sebagian lagi ada golongan yang mendapatkan cahaya benderang, Nabi Adam As. pun bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah mereka itu?”
Allah Swt. berfirman: “Mereka adalah para nabi dari anak cucumu, wahai Adam.” Kemudian Allah Swt. menikahkan Adam As. dengan Siti Hawa pada hari Jum’at setelah tergelincirnya matahari. Karena itulah kita disunnahkan menikah pada hari Jum’at.
Dikatakan pula bahwa sosok Nabi Adam As. itu lebih bagus daripada Siti Hawa, namun Siti Hawa lebih lembut dan lunak hatinya. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Malaikat Ridhwan, penjaga surga, untuk membuatkan perkemahan dan merias para pelayan surga dan para bidadari. Dan dibuatlah seekor kuda untuk Nabi Adam As. bagai kilat yang menyambar yang dibuat dari misik. Kuda itu dinamai kuda “Maimun”. Tatkala kuda itu diserahkan kepada Nabi Adam As., beliau pun langsung menaikinya.
Adapun bagi Siti Hawa diberikan seekor unta pilihan dari surga yang bagian atasnya dipasang tandu terbuat dari mutiara, ia pun lalu menaikinya.
Jibril As. yang memegang kendali kuda, Mikail As. berjalan turut mengiringnya di sebelah kanan dan Israfil As. di sebelah kirinya. Mereka berkeliling di langit dan mengucapkan salam pada para malaikat yang mereka jumpai. Maka para malaikat berkata, “Sungguh amat mulianya engkau (Adam As.) mengalahkan ciptaan Allah lainnya.”
Siti Hawa juga turut berkeliling menaiki onta. Akhirnya sampailah mereka di pintu surga dan mereka terdiam sejenak. Kemudian Allah Swt. mewahyukan pada Adam As., “Ini adalah surga-Ku dan istana kemuliaan-Ku. Masuklah kalian dan makanlah sesuka hati kalian. Dan janganlah kalian mendekati pohon ini, niscaya kalian tergolong orang-orang yang berbuat dzalim.”
Para malaikat yang menjadi saksi atas pernikahan mereka. Kemudian mereka menghantarnya masuk ke dalam surga dan berkeliling menemani Adam As. dan Siti Hawa. Di dalamnya mereka diperlihatkan persediaan tempat-tempat bersemayamnya semua nabi. [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (7): Ketika Adam As. Melepas Masa Lajangnya

TATKALA Nabi Adam As. turun dari mimbar, beliau pun duduk di antara para malaikat. Lalu Allah Swt. menidurkannya, karena tidur sebagai istirahatnya badan. Dalam tidurnya Nabi Adam As. melihat Siti Hawa sebelum diciptakannya. Langsung jatuh hatilah Nabi Adam As. padanya. Maka diciptakanlah Siti Hawa oleh Allah Swt. dari tulang rusuk Adam As. bagian kiri.
Allah menciptakan Hawa sama bentuknya dengan Nabi Adam, hanya lebih dipercantik. Dan kecantikannya melebihi 1000 bidadari. Maka secantik-cantiknya wanita adalah Siti Hawa berikut keturunannya sampai dihari kiamat. Siti Hawa memiliki 700 ikatan pada rambutnya dengan tinggi badan sama dengan Nabi Adam As. (60 dzira’). Lalu Allah Swt. memberinya gelang dan perhiasan dari surga yang berkilau melebihi kilauan mentari.
Setelah itu Nabi Adam As. pun terbangun. Tiba-tiba Siti Hawa sudah berada di sampingnya. Terheran, kagum, dan langsung jatuh cinta Adam As. padanya. Syahwat pun merasuki Nabi As. Lalu diwahyukan pada Nabi Adam As., “Janganlah engkau lakukan sehingga engkau mendatangkan maharnya.” Nabi Adam As. bertanya: “Apa mahar (mas kawin)nya?” Allah Swt. berfirman, “Aku mencegah kalian dari pohon gandum, janganlah kalian makan pohon itu. Itulah yang menjadi maharnya.”
Riwayat lain mengatakan bahwa Allah Swt. berfirman, “Berikanlah dia maharnya.” Nabi Adam As. kemudian bertanya, “Apa maharnya?” Allah Swt. berfirman, “Bacaan shalawat kepada Nabi-Ku dan Kekasih-Ku Muhammad.” Lalu Adam As. bertanya: “Siapakah Muhammad itu?” Allah Swt. berfirman, “Dia adalah anak cucumu nanti, dan dia adalah penutup para Nabi. Andai bukan karena dia niscaya Aku takkan ciptakan makhluk.”

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (6): Nabi Adam As. Adalah Orang yang Pertamakali Berkhutbah Jum’at

AL-HAFIDZ Ismail as-Saddi berkata, “Kubaca keterangan yang banyak dalam kitab Injil diantaranya hitungan jam dalam sehari semalam itu ada 24 jam. Dalam sehari manusia bernafas sebanyak 30.000 kali, setiap jamnya bernafas sebanyak 1.250 kali. Dan ini adalah keterangan yang langka.”
Al-Azizi berkata, “Sesungguhnya ruh masuk ke dalam jasad Nabi Adam As. pada siang hari Jum’at yang berlangsung selama 7 jam hitungan akhirat. Kemudian Allah Swt. memberinya baju sutra dari surga yang penuh dengan perhiasan dan memakaikan mahkota emas yang dicampur dengan mutiara. Mahkota itu terdiri dari 4 sudut. Di setiap sudutnya terdapat mutiara yang besar dan bersinar seperti sinarnya matahari. Allah juga memberikan cincin kemuliaan dan memberi ikat pinggang yang dipenuhi dengan keridhaan. Juga diberi celana hijau dari sutra dan nampaklah sinar cemerlang di keningnya bagai matahari. Sinar itu adalah Nur Muhammad Saw.
Kemudian Allah Swt. mengutus malaikat-Nya agar menggendong Nabi Adam di pundaknya untuk keliling di langit sampai 7 tingkatan sampai sekitar 100 tahun. Mereka melihat keajaiban-keajaiban di sana. Lalu Allah mengutus malaikat untuk membuatkan mimbar dari emas dan Allah memberikan ilmu pengetahuan kepada Adam As. atas semua nama-nama sesuatu. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 31, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.”
Kemudian Adam As. naik ke mimbar dan berdiri tegak. Tangannya memegang tongkat yang terbuat dari cahaya. Yang demikian terjadi pada hari Jum’at saat tergelincirnya matahari.
Lalu Allah Swt. mengumpulkan para malaikat untuk menyambut Adam As. Nabi Adam As. pun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum ya Malaikata Rabbi warahmatullahi wabarakatuh.” Serentak para malaikat menjawab, “’Alaikassalam ya Shafwatallahi warahmatuhu wabarakatuh.”
Allah Swt. berfirman: “Wahai Adam, ini adalah penghormatan untukmu dan anak cucumu sampai hari kiamat nanti.”
Tatkala Adam As. berkhutbah, ia berucap, “Alhamdulillah.” Maka jadilah hamdalah masuk dalam rukun khutbah Jum’at. Sehingga Adam As. adalah orang yang pertamakali berkhutbah Jum’at.

Kemudian Allah Swt. memperlihatkan semua nama-nama benda pada para malaikat. Allah Swt. Berfirman sebagaimana dalam QS. al-Baqarah ayat 31, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar.” Para malaikat pun serentak menjawab sebagaimana dalam QS. al-Baqarah ayat 32, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”
Allah Swt. berfirman lagi sebagaimana tercantum dalam QS. al-Baqarah ayat 33,
“Allah berfirman, ‘Wahai Adam beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, ‘Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku Mahamengetahui rahasia langit dan bumi dan Mahamengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’”

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (5): Ruh Pun Menolak untuk Masuk Saat Penciptaan Adam a.s.

IBNU Abbas Ra. berkata lagi, “Ketika Allah Swt. hendak meniupkan ruh pada jasad Adam As., maka Allah mengutus ruh itu agar masuk pada tubuh Adam dari kepala. Sehingga kepala dinamakan juga yafukha.” Awalnya ruh tersebut menolak, enggan untuk masuk dan mengadu pada Allah, “Wahai Tuhan, bagaimana mungkin saya masuk pada tempat yang gelap.”
Lantas Allah Swt. memanggilnya 3 kali, tapi ruh tidak menghiraukan-Nya. Hingga akhirnya dimasukkanlah ia ke dalam jasad Adam As. secara paksa. Allah berfirman padanya, “Andai engkau mau masuk dengan tulus niscaya ketika keluarmu juga tulus. Tetapi Ilmu-Ku sudah tertera sejak zaman azali bahwa engkau masuk secara paksa, maka saat keluar pun harus dipaksa.”
Disaat ruh masuk pada ruang otak, ia berputar-putar sampai 100 tahun. Lalu turunlah ia ke dua mata sehingga bisa melihat, lalu dilihatlah pada jasadnya yang masih berupa bongkahan batu bata. Kemudian ruh turun ke lubang hidung, bernafaslah ia menghirup udara dan bersin.
Lalu ruh pun turun ke mulut dan lisan, saat itu Allah mengilhamkan kepadanya untuk memuji. Akhirnya berkatalah lisan, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” (segala puji milik Tuhan semesta alam). Allah pun menjawab: “Yarhamuka Rabbuka Ya Adam Hadza Laka Walidzurriyyatika.” (Tuhanmu merahmatimu wahai Adam. Ini utukmu dan anak-cucumu). Dari sini maka disunnahkan untuk mendoakan orang yang bersin. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa ketika Nabi Adam As. memuji Allah Swt. (hamdalah), maka Allah Swt. menjawab, “Karena inilah Aku ciptakan engkau wahai Adam.”
Lalu ruh itu turun lagi ke dada, tulang rusuk dan perut. Maka Adam As. pun dapat melihat ruh itu terus berpindah-pindah. Setiap kali ruh itu pindah, maka jadilah daging, tulang, ruh dan darah. Disaat ruh sudah sampai di lutut maka Adam As. tergesa-tega untuk berdiri tapi tidak mampu. Maka Allah Swt. Berfirman, sebagaimana dalam QS. al-Anbiya’ ayat 37, “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.”
Dan tatkala ruh sudah merata ke seluruh jasad, maka Adam As. bisa bergerak, berdiri tergontai dan sempurnalah ciptaan Allah dengan izinNya, Dzat Yang Mahamenghidupkan tulang-tulang yang telah hancur. [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (4): Iblis Adalah Azazil, Hamba Allah yang Paling Banyak Beribadah

WAHB bin Munabbih mengatakan bahwa Nabi Adam As. adalah orang yang pertamakali mengucapkan salam. Di banyak tempat terdapat keterangan yang menyatkan bahwa tidaklah suatu kaum mengucapkan salam kecuali mereka selamat dari siksa. Sehingga para malaikat bertanya, “Ya Tuhan kami, apakah Engkau menciptakan makhluk yang lebih mulia dari kami?” Maka Allah Swt. Menjawab, “Ada, Akulah yang menciptakannya lewat Yadku (kekuasaanku) sendiri. Aku cukup berkata ‘Kun’, maka wujudlah ia.”
Kemudian Allah Swt. memerintahkan para malaikat untuk bersujud pada Nabi Adam As. Dan yang pertama bersujud adalah Jibril As., kemudian Mikail As., Israfil As., Izrail As., dan kemudian para Malaikat Muqarrabin As. Lantas Allah Swt. memerintah Iblis untuk turut bersujud pada Nabi Adam As. Namun Iblis menolaknya dan enggan.
Akhirnya Allah Swt. berfirman sebagaimana tercantum dalam QS. Shad ayat 38, “Apa yang membuatmu tidak mau bersujud pada makhluk yang Kuciptakan lewat Yadku sendiri?” Iblis pun menjawab, sebagaimana tercantum dalam QS. al-A’raf ayat 12, “Aku lebih mulia darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” Kemudian Iblis melanjutkan, “Dan saya telah beribadah kepadaMu lebih dulu dengan masa yang sangat lama sebelum Engkau menciptakannya.”

Kemudian Allah Swt. berfirman, “Telah Kuketahui bahwa kamu akan durhaka pada-Ku. Maka semua ibadah yang kamu lakukan tak akan bermanfaat. Mulai sekarang keluarlah kamu dari rahmat-Ku. Allah melanjutkan perkataan-Nya, “Sungguh akan Kupenuhi isi neraka jahannam darimu dan para pengikutmu” (QS. Shad ayat 85). Lalu Iblis pun berkata, “Ya Tuhan, tunggulah saya sampai hari kebangkitan.” Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu tergolong orang-orang yang ditangguhkan.” (QS. al-A’raf ayat 14-15; Shad ayat 79-80; dan al-Hijr ayat 36-37).
Akhirnya berubahlah rupa Iblis menjadi setan yang terkutuk. Nama asli Iblis adalah Azazil, merupakan pembesar para malaikat. Tiada suatu tempat di langit maupun di bumi kecuali di situ ia melakukan sujud beribadah kepada Allah. Akan tetapi karena kedurhakaannya kepada Allah maka semua ibadahnya menjadi sia-sia. Dinamakan Iblis karena ia “ablasa”, telah putus, dari rahmat Allah.
Pertanyaan simpelnya adalah, “Kenapa Allah Swt. menghancurkan musuh-musuh para nabi-Nya tetapi membiarkan Iblis yang notabenenya memusuhi Nabi Adam As.?” Jawabnya adalah, “Allah membiarkan Iblis karena untuk menggoda (menguji coba) para hamba-Nya.” Nabi Saw. telah bersabda, “Jika Allah berkehendak agar tiada satu pun makhluk yang durhaka kepada-Nya, maka Allah pun takkan menciptakan Iblis. Begitulah adanya Iblis merupakan siksaan bagi orang-orang kafir dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Sehinga Allah Swt. akan mencintakan mereka yang durhaka pada Iblis, dan juga karena Iblis sendiri telah meminta pada Allah agar ditunda sampai hari kebangkitan.” [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (3): Iblis Merasuki Seluruh Anggota Tubuh Adam As. Saat Diciptakan Kecuali Hati

KEMUDIAN Allah Swt. menciptakan wujud Nabi Adam As. dengan panjang (tinggi) 60 dzira’. Pada anatomi tubuhnya terdapat 360 otot kecil, 240 otot besar dan bagian kepalanya terdapat 7 lubang, serta memberinya 2 tangan dan 2 kaki, dan lain sebagainya. Dan sempurnalah ciptaan Allah, Maha Suci Allah sebaik-baiknya Dzat yang menciptakan para makhluk.
Abu Musa al-Asy’ari Ra. mengatakan bahwa ketika Allah Swt. menciptakan kemaluan Adam As., Ia berfirman, “Ini adalah amanah-Ku, maka janganlah engkau gunakan kecuali pada haknya.”
Ibnu Abbas Ra.berkata: “Allah menciptakan 3 perkara dengan Yadnya sendiri; (1) Adam As., (2) Pohon Thuba, dan (3) Papan yang di dalamnya tertulis Kitab Taurat.” Maksud dari Yad adalah kekuasaan Allah. Sebagaimana yang telah difirmankan dalam QS. Yasin ayat 82, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah’, maka terjadilah ia.”
Ibnu Abbas Ra. juga berkata, “Ketika Nabi Adam As. masih berbentuk bongkahan tanah liat, Iblis melewatinya dan mengetuk perut Nabi Adam dengan jarinya. Sebab ketukan itulah terbentuk pusar pada perut Nabi Adam As. Berati pusar adalah petilasan dari ketukan Iblis.”
Kenapa Iblis mengetuk perut Nabi Adam As., adalah karena ia penasaran dengan ciptaan Allah yang baru itu bisa berlubang ataukah buntu. Dan saat diketahui berlubang, maka Iblis masuk dalam perut Nabi Adam As. dan menelusuri ke setiap sendi luar dan dalam anggota-anggota tubuh itu hingga pada otot-otot terkecuali hati. Karena hati itu siapapun tidak bisa menembusnya selain Allah Swt. Iblis tidak diberi kemampuan menerobos hati karena hati adalah Bait Rabbi (tempat mengimani Tuhan). Maka dikatakan bahwa sesungguhnya setan itu berjalan sebagaimana tempat aliran darah. [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (2): Terciptanya Manusia Sejak Awal Memang Ditakdirkan Lebih Banyak Sedih daripada Senangnya

IMAM ats-Tsa’labi kembali menjelaskan bahwa setelah segenggam tanah diambil maka bumi pun menangis merasakan kehilangan. Lalu Allah Swt. berfirman padanya, “Sungguh suatu saat nanti Aku kan kembalikan lagi apa yang telah Kuambil darimu.” Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaha ayat 55, “Dari bumi (tanah) itulah Kami jadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”
Diutuslah Malaikat Izrail As. oleh Allah Swt. agar segenggam tanah itu diletakkan di pintu surga. Kemudian Allah mengutus Malaikat Penjaga Surga, yaitu Ridhwan, agar dari segenggam tanah itu dijadikan adonan dengan dicampur air dari Bengawan Tasnim. Lalu Allah Swt. mengutus Jibril As. agar mendatangkan segumpal tanah yang putih, yaitu hati atau intisari bumi. Dan dari itulah Allah menciptakan para nabi. Kemudian Allah mencampur tanah tersebut dengan air sehingga menjadi adonan yang besar.
Disebutkan dalam sebuah syair, “Wahai yang mengadukan kesusahan. Tinggallah ia dan tunggulah solusi baginya. Waktumu terus berputar dari masa ke masa. Jangan kau tentang jika saat mengeruh, karena sesungguhnya kamu tercipta dari paduan air dan tanah.”
Setelah menjadi adonan, ia dibiarkan selama 40 tahun sehingga menjadi tanah yang keras. Kemudian dibiarkan lagi selama 40 tahun sehingga menjadi seperti batu bata. Kemudian baru dibentuk jasad lalu diletakkan di jalan yang mana para malaikat biasa melewatinya saat mau naik atau turun. Di situ juga dibiarkan selama 40 tahun. Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Insan ayat 1, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” Menafsirkan ayat ini, Ibnu Abbas Ra. berkata: “Yang dimaksud masa tersebut adalah 40 tahun.”
Imam ats-Tsa’labi menjelaskan bahwa ketika Allah Swt. membuat adonan pada tanah liat Adam, Ia menyiramnya dengan hujan kesedihan dan kesusahan selama 40 tahun. Kemudian Ia menyiramkan hujan kebahagiaan selama 1 tahun. Maka dari itu dalam kehidupan ini susah itu lebih banyak daripada senang, dan sedih lebih banyak daripada bahagianya.
Dalam syair yang lainnya dikatakan, “Jika kamu berfikir pada pergantian zaman, manakah yang lebih mengagumkan daripada ini? (susah lebih banyak daripada senang). Datangnya kebahagiaan itu bisa ditimbang, dan cobaan itu bisa ditakar dengan cetakan.” [*]

Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.

Kisah Nabi Adam 'Alaihissalam (1): Awal Mula Ditugaskannya Izrail As. Sebagai Malaikat Maut

IMAM ats-Tsa’labi mengatakan bahwa saat Allah Swt. hendak menciptakan Nabi Adam As., maka Allah Swt. mewahyukan pada bumi, “Sesungguhnya Kami akan menciptakan makhluk dari inti sarimu. Sebagiannya taat kepada-Ku dan sebagian lainnya durhaka kepada-Ku. Barangsiapa yang taat pada-Ku niscaya akan Kumasukkan ia di surga-Ku. Dan barangsiapa yang durhaka pada-Ku maka akan Kumasukkan ia ke neraka-Ku.”
Kemudian Allah Swt. mengutus Malaikat Jibril As. turun ke bumi untuk membawa segenggam tanah darinya. Tatkala Jibril As. sampai di bumi, bumi pun bersumpah, “Sungguh aku berlindung pada Allah Dzat Yang Mahamulia, yang mengutusmu. Kupinta agar engkau tidak mengambil sesuatu dariku yang akhirnya bernasib masuk ke dalam neraka.” Akhirnya Jibril As. pun tidak jadi mengambil tanah di bumi dan kembali menghadap kepada Allah Swt. seraya mengadu, “Bumi telah memohon perlindungan dari-Mu, maka saya pun tidak berani untuk mengambil sesuatu darinya.”
Kemudian Allah Swt. mengutus Malaikat Mikail As. turun ke bumi untuk mengambil segenggam tanah darinya. Bumi pun kembali bersumpah sebagaimana sumpahnya pada Jibril As. Maka Malaikat Mikail As. demi memuliakan sumpah itu, ia pun tidak jadi mengambil sesuatu dari bumi.
Lalu diutuslah Malaikat Izrail As. oleh Allah Swt. agar turun ke bumi dan menancapkan tombak yang ada kantongnya. Bumi pun bergoncang disusul dengan uluran tangan Malaikat Izrail As. Kemudian bumi pun bersumpah sebagaimana sebelumnya. Malaikat Izrail As. lalu berkata, “Taat atas perintah Allah itu lebih baik daripada menuruti sumpahmu.” Akhirnya Izrail As. mengambil segenggam tanah dari 4 sudut intisari bumi: tanah berwarna hitam dan putih, serta dua tanah merahnya gunung, bagian atas dan bawahnya. Lalu tanah tersebut diserahkan kepada Allah Swt.

Allah Swt. pun berfirman kepada Izrail As., “Kenapa engkau tidak menuruti sumpahnya? Padahal dia bersumpah atas nama-Ku.” Malaikay Izrail As. menjawab, “Wahai Tuhanku, perintah-Mu lebih berhak untuk dilaksanakan dan takut pada-Mu lebih diutamakan.” Allah Swt. lalu berfirman, “Mulai sekarang engkau Kujadikan sebagai Malaikat Maut. Tugasmu adalah sebagai pencabut nyawa, mengambil nyawa dari para jasad. Sebelum ini belum pernah ada Malaikat Maut.” [*]
Kisah ini dikutip dari Fanspage “Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara” yang disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy.