Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sang Musafir dan Jin Penghuni Pohon


PADA SUATU KETIKA hiduplah seorang pemuda yang senantiasa berkembara ke berbagai penjuru negeri. Dia adalah seorang yang patuh beragama dan suka membantu orang lain. Di setiap negeri yang dilewatinya, ia selalu singgah beberapa saat dan mengabdikan dirinya di sana. Selanjutnya, dia pun pergi meninggalkan kampung tersebut untuk melanjutkan perjalanannya. Para penduduk negeri-negeri yang dikunjunginya seringkali menyebutnya sebagai sang musafir. 

Pada suatu hari, sang musafir sampai pada sebuah negeri yang dahulunya adalah negeri yang kaya dan makmur. Para penduduknya bekerja dengan tekun sesuai dengan profesinya masing-masing. Ada yang berdagang, membuat perabot rumah tangga, beternak, dan bertani. Akan tetapi keadaan sudah menjadi lain tatkala sang musafir singgah di negeri itu. Para penduduknya yang semula makmur dan sejahtera kini menjadi hina dan sengsara. Kesengsaraan itu timbul karena mereka tidak mau lagi bekerja dengan tekun dan keras seperti dahulu. Waktu sehari-hari mereka hanya digunakan untuk memuja dan memohon pada sebuah pohon besar yang dianggap keramat oleh mereka.  
Lama-kelamaan sifat malas pun menjangkiti mereka. Mereka tak mau lagi berkotor-kotor terjun ke sawah mengolah tanah untuk ditanami, atau berpanas-panas seharian berdagang di pasar. Yang mereka kerjakan sehari-hari hanya bermalas-malasan di bawah pohon tersebut tanpa bekerja sedikit pun. 

Keadaan itu membuat sang musafir merasa jengkel sekaligus iba kepada mereka. Dia telah beberapa kali menasehati mereka untuk meninggalkan pohon itu dan kembali bekerja membangun negeri mereka. Namun nasehat itu tak diindahkan oleh mereka. Bahkan mereka menghina dan mencaci maki sang musafir dengan ejekan yang menyakitkan. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir, ia terpaksa memutuskan untuk menebang saja pohon itu. Dengan itu ia berharap tragedi yang menimpa negeri itu akan segera berakhir. Dia tidak memedulikan akibat yang akan ditanggungnya nanti atas keputusannya itu. Keinginan yang kuat, tekad yang bulat, serta niat yang tulus darinya untuk menyelamatkan penduduk dari kesengsaraan dan kemalasan yang sudah merajalela itu mengalahkan kekhawatiran yang mungkin timbul akibat perbuatannya nanti.  

Maka pada hari yang telah ditentukan, ia melaksanakan rencananya itu. Ia keluar dari tempat tinggalnya  menuju ke pohon tersebut dengan membawa sebilah kapak. Ketika hendak mencapai pohon itu, tiba-tiba ia dihadang sesosok jin yang menghuni pohon tersebut. Terjadilah percakapan antara jin penghuni pohon dengan sang musafir, “Berhentilah di tempatmu, wahai Musafir! Jangan kautebang pohon ini! Mengapa kau sangat berambisi untuk menebangnya?” hardik si jin dengan suara yang lantang dan keras. Sang musafir pun menjawab dengan tegas pula, “Karena dia telah menyengsarakan para penduduk dan membuat mereka malas bekerja.” Si jin kembali menimpali dengan ketus, “Apa urusanmu atas mereka? Biarkanlah mereka berbuat sesuatu secara bebas atas hal yang mereka sukai!” Sang musafir kembali menjawab, “Tidak! Mereka tidak berbuat secara bebas, tetapi justru diperbudak oleh kemalasan dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh pohon ini. Karenanya saya akan tetap menebang pohon ini untuk menyelamatkan mereka. Sebab hal itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya.” 

Perkelahian pun akhirnya tak dapat terelakkan. Keduanya saling bergelut dan memukul untuk merobohkan masing-masing. Setelah bergelut cukup lama, akhirnya perkelahian usai dengan kemenangan di pihak sang musafir. Si jin menyerah dan mempersilakan sang musafir untuk berbuat sekehendak hatinya. Namun sang musafir tidak langsung melaksanakan rencananya semula (menebang pohon besar itu), akan tetapi dia memilih pulang ke tempat tinggalnya untuk beristirahat, karena terlalu lelah dalam perkelahian yang cukup lama dan menyita tenaganya tadi. 

Pada hari berikutnya sang musafir kembali datang ke pohon itu untuk melaksanakan rencananya yang sempat tertunda kemarin. Tak lupa dia membawa sebilah kapaknya. Akan tetapi si jin kembali meghadang dan hendak menggagalkan rencananya. Adu mulut pun terjadi di antara keduanya. Kemudian perkelahian tak dapat dihindarkan. Si jin menyerah kalah, dan mempersilakan sang musafir melaksanakan niatnya. Namun karena kelelahan akibat perkelahian tadi, sang musafir menunda niatnya itu untuk ke dua kalinya. 

Hal tersebut berlangsung hingga berkali-kali. Akhirnya pada hari yang ke empat, sang musafir kembali mendatangi pohon itu. Ia hendak mewujudkan rencananya yang sempat tertunda beberapa kali itu. Namun si jin tak bosan pula untuk kembali menghadang dan menggagalkan niat sang musafir. Akan tetapi pada hari itu perkelahian tidak terjadi. Si jin menyadari bahwa jika ia melawan sang musafir, pasti dia akan kalah. Maka dia pun berpikir keras untuk mengalahkan sang musafir tanpa melalui perkelahian. Akhirnya dia mendapatkan ide yang dirasanya cukup bagus. Ide itu tidak lain adalah tipu daya. Dia pun kemudian merayu sang musafir, “Tahukah kamu wahai Musafir, mengapa aku menghalangimu untuk menebang pohon itu? Aku melarangmu karena aku merasa khawatir sekaligus kasihan terhadapmu. Jika kautebang pohon itu, pastilah orang-orang yang memuja dan berharap kepadanya akan membenci dirimu. Bukankah hal itu justru akan merugikanmu? Maka dari itu, janganlah kautebang pohon itu. Sebagai gantinya, aku akan memberimu sejumlah uang setiap hari. Kau dapat menggunakan uang tersebut untuk keperluanmu sehari-hari. Dengan demikian kau akan dapat hidup tenang dan sejahtera.” Kata si jin dengan raut muka yang tenang dan meyakinkan. 

Sang musafir merasa tertarik dengan tawaran yang diajukan si jin kepadanya. “Betulkah kamu akan mengirimkan uang itu kepadaku secara rutin setiap hari?” Kata sang musafir meminta kepastian. “Ya benar, kau akan mendapatinya setiap pagi di bawah bantalmu.” Si jin menjawab dengan mantap. Akhirnya keduanya sepakat dengan perjanjian yang ditawarkan oleh si jin. Sang musafir memilih mengurungkan niatnya untuk menebang pohon besar itu, dan menyetujui tawaran yang disampaikan oleh si jin. 

Maka benar, setiap pagi ia selalu mendapati sejumlah uang yang ditaruh di bawah bantalnya, sebagaimana yang dijanjikan oleh si jin. Hal itu berlangsung selama satu bulan penuh. Akan tetapi pada suatu pagi sang musafir tidak menemukan uang seperti biasanya. Ia cari lagi hingga ke bawah tempat tidurnya, namun tak juga ia temukan. Akhirnya dia pun menjadi jengkel dan marah. Dalam hati ia berkata, “Pasti  jin itu telah bosan dan mengingkari janjinya. Kuranmg ajar!” 

Kemudian dia langsung mengambil kapaknya, dan keluar menuju pohon besar sambil memendam rasa marah. Sesampainya di dekat pohon itu ia dihadang oleh si jin yang telah mengingkari kesepakatan yang mereka buat. Si jin menghardiknya, “Berhentilah di tempat, wahai Musafir! Katakan kepadaku, apa yang hendak kaulakukan.” Sang musafir menjawab, “Aku hendak menebang pohon itu.” Tanpa langsung menjawab kembali, si jin tertawa terbahak-bahak seakan melecehkan sang musafir. Kemudian ia berkata, “Engkau hendak menebangnya? Ha… ha… ha…” Si jin melanjutkan perkataannya, “Aku tahu, kau hendak menebang pohon ini karena aku tak lagi memberikan sejumlah uang itu kepadamu, bukan?” Sang musafir membantah perkataan si jin, “Bukan. Bukan karena itu. Tetapi karena aku hendak memberantas kesengsaraan dan kemalasan para penduduk yang disebabkan oleh pohon ini.” Si jin kembali tertawa terbahak-bahak seraya menghina dan melecehkan sang musafir. Katanya, “Kamu ingin memberantas kesengsaraan dan kemalasan para penduduk? Ha… ha… ha…” 

Tak lama kemudian, perkelahian terjadi di antara keduanya. Mereka saling bergelut dan memukul dalam waktu yang cukup lama. Tanpa diduga, sang musafir kalah oleh si jin. Dengan angkuh dan sombong si jin menertawakan, kemudian berkata kepada sang musafir yang tengah terkapar tak berdaya, “Di manakah kekuatanmu sekarang? Ha… ha… ha…” Dengan suara terbata-bata sang musafir berkata kepada si jin, “Katakanlah kepadaku, mengapa Engkau dapat mengalahkanku  sekarang?” Si jin pun menjawab keingintahuan sang musafir, “Benar, beberapa waktu yang lalu saat kau hendak menebang pohon itu, kemudian aku halangi, Engkau dapat mengalahkanku. Itu karena kau melakukannya atas dasar niat yang tulus dan tekad yang kuat untuk memberantas kesengsaraan dan kemalasan yang melanda penduduk negeri ini. Namun tatkala kau melakukan hal itu demi kepentingan pribadimu dan dalam keadaan marah, maka sebaliknya, aku justru yang mengalahkanmu. Ha… ha… ha…” 

Dari peristiwa tersebut sang musafir mengambil pelajaran dan hikmah di baliknya. Ia sadar bahwa suatu pekerjaan yang didasari dengan niat yang tulus dan dilakukan dengan tekad dan semangat yang kuat akan dapat membuahkan hasil yang bagus. Hambatan sebesar apapun akan terasa lebih ringan dan dapat teratasi dengan baik. Namun jika perbuatan tersebut dilaksanakan secara emosional dan didasari dengan niat yang tidak tulus, maka kesia-siaanlah yang akan tumbul akibat dari perbuatan tersebut. 

Di akhir masa pengabdiannya di negeri tersebut, ia kembali bekerja keras untuk menyadarkan para penduduk dari keterpurukan yang telah lama menimpa mereka akibat pemujaan yang berlebihan terhadap pohon besar tersebut. Kerja keras itu pun akhirnya membuahkan hasil. Para penduduk kini mulai sadar dan insaf atas kesalahan meeka selama ini. Kini mereaka menyadari bahwa perbuatan mereka itu tak akan dapat menghasilkan apa-apa. Kejayaan dan kemakmuran hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan pengorbanan.  

Dalam jangka waktu yang tak seberapa lama, negeri itu kembali pulih seperti semula. Para penduduk kembali bekerja dengan tekun sesuai pekerjaannya masing-masing. Kemakmuran yang dahulu sempat hilang itu pun kini kembali lagi. Itu berarti bahwa tugas sang musafir telah purna. Karenanya ia harus segera meninggalkan negeri itu dan melanjutkan pengembaraannya. Tibalah kini saat perpisahan mereka dengan sang musafir, orang yang telah berjasa mengentaskan mereka dari keterpurukan. Di hari perpisahan itu, dengan berat mereka melepas sang musafir dengan penuh keharuan dan air mata. Mereka tidak akan melupakan jasanya yang begitu besar itu. Kehadirannya akan selalu dinantikan, dan kepergiannya akan senantiasa dikenang. Jasa-jasanya tidak akan mereka lupakan untuk selamanya. [*]


Ide cerita ini diambil dan diterjemahkan dari buku ألعربية للناشئين  (Pelajaran Bahasa Arab bagi Pemula) Vol. 5, dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.

Terompah Abu Kasim

PADA suatu ketika, di negeri Baghdad hidup seorang laki-laki separuh baya. Namanya Abu Kasim. Ia adalah seorang yang memiliki harta yang cukup berlimpah. Akan tetapi dia sangat kikir. Karena kikirnya, ia sangat sayang mengeluarkan hartanya untuk mengganti terompahnya yang sudah usang dengan yang baru. Terompah itu telah dipakainya selama tujuh tahun. Apabila rusak atau berlubang, ia menambal terompah tersebut sendiri. Jadilah terompah itu penuh dengan jahitan dan tambalan, sehingga terasa sangat berat jika dipakai.

Pada suatu hari Abu Kasim pergi ke tempat pemandian umum untuk mandi. Di sana ia bertemu dengan salah seorang sahabatnya. Berkatalah sang sahabat kepadanya, "Wahai Abu Kasim, mengapakah terompah yang sudah sangat tua itu masih saja kaupakai? Gantilah dengan terompah yang baru. Bukankah Engkau orang yang punya cukup harta?" Abu Kasim membenarkan perkataan sabatnya itu. Ia pun berjanji akan menuruti nasehatnya, membeli terompah yang baru.

Setelah bercakap-cakap sejenak dengan sahabatnya, ia segera melaksanakan niatnya untuk mandi. Tatkala usai menunaikan hajatnya dan berpakaian lengkap, keluarlah ia dari kamar mandi. Syahdan, ia terkejut melihat sepasang terompah yang masih baru yang berada tak jauh dari terompah usangnya. Ia menyangka terompah baru tersebut adalah milik seorang dermawan yang dihadiahkan kepadanya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera memakai terompah tersebut. Kemudian ia pulang ke rumahnya dengan perasaan senang. Ia tak tahu bahwa sebenarnya terompah tersebut adalah milik seorang kadi yang kebetulan juga sedang mandi di tempat tersebut.

Ketika sang kadi usai mandi, ia pun keluar. Akan tetapi ia tidak mendapati terompahnya. Kemudian ia berujar, "Seorang yang memakai terompah saya pastilah ia tinggalkan terompahnya di sini." Maka, sang kadi pun mencari di sekeliling tempat tersebut. Akhirnya ia menemukan terompah yang sudah usang. Terompah tersebut merupakan satu-satunya terompah yang tertinggal di sana. Ia tahu bahwa terompah tersebut milik Abu Kasim. Ini berarti bahwa yang memakai terompahnya adalah Abu Kasim.

Sang kadi kemudian mengutus pembantunya ke rumah Abu kasim. Benarlah memang bahwa terompah sang kadi ada di sana. Abu Kasim pun akhirnya dibawa ke pengadilan dengan tuduhan pencurian terompah sang kadi. Sebagai hukumannya, ia dihukum pukul, selanjutnya dimasukkan ke penjara selama beberapa waktu. Akan tetapi, setelah membayar sejumlah denda ia dibebaskan.

Setelah bebas dari penjara ia segera mengambil terompahnya dengan perasaan yang masygul. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia menuju ke sebuah sungai, kemudian membuang serta menenggelamkan terompahnya di sana. Tak seberapa lama seorang nelayan menuju ke sungai tersebut untuk mencari ikan. Dia melemparkan jalanya, kemudian menariknya kembali setelah beberapa saat. Bersama beberapa ikan yang ia dapatkan, terdapat pula sepasang terompah yang tersangkut pada jalanya. Maka tahulah dia bahwa sepasang terompah tersebut adalah milik Abu Kasim. Ia menduga bahwa terompah tersebut telah jatuh ke sungai tanpa sepengetahuan Abu Kasim.

Maka dia pun kemudian membawa sepasang terompah tersebut ke rumah Abu Kasim untuk diserahkan kepadanya. Akan tetapi sesampai di rumah Abu Kasim ia tidak mendapatinya. Dia melihat jendela rumah tersebut terbuka. Tanpa berpikir panjang, dia pun melempar sepasang terompah tersebut melalui jendela itu. Tanpa disengaja terompah itu mengenai lemari kaca milk Abu Kasim hingga pecah berantakan. Ia sangat terkejut Tatkala mengetahui kejadian tersebut. Ia pun berujar, “Siapakah gerangan yang telah berbuat seperti ini?” Dia jengkel dan marah atas kejadian itu, sembari mengumpat dan menyumpahi terompah sialnya tersebut.

Pada suatu hari Abu Kasim mempunyai ide untuk mengubur terompahnya. Maka, tatkala malam tiba, ia pun melaksanakan idenya. Ketika sedang menggali lubangan untuk mengubur terompah itu, tanpa sadar perbuatannnya disaksikan oleh beberapa orang tetangganya. Mereka menyangka bahwa Abu Kasim hendak merobohkan rumah mereka. Mereka pun mengadukan perbuatan Abu Kasim itu kepada kadi. Akhirnya dia disidangkan. Dalam persidangan itu ia didakwa telah berusaha melakukan perobohan atas rumah tetangganya. Maka ia pun dipenjarakan sebagai hukuman atas kesalahannya itu. Untuk dapat bebas, ia harus menebus dengan sejumlah uang. Ia memilih bebas dengan cara menebus dengan sejumlah uang, daripada dipenjarakan.

Kini ia bingung, ia telah kehabisan akal mengatasi terompahnya itu. Terompah usang itu telah banyak menguras harta bendanya. Ia berpikir keras untuk menemukan ide baru agar terjauh dari akibat buruk terompahnya itu. Akhirnya dia menemukan sebuah ide yang dirasanya cukup bagus, yaitu melempar sepasang terompahnya itu ke atap rumahnya. Dengan itu ia merasa lebih aman dan tenang. Ia tidak berpikir panjang atas akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya itu.

Akan tetapi takdir berkata lain. Pada suatu hari dua ekor kucing berkejar-kejaran di atap rumahnya. Tanpa diduga salah satunya menyenggol terompah tersebut. Terompah itu pun jatuh menimpa kepala seorang perempuan yang kebetulan sedang lewat di samping rumahnya. Akibat kecelakaan itu si perempuan terluka parah. Orang-orang yang sedang lewat di sekitarnya berduyun-duyun menolong si korban. Mereka juga mencari tahu siapakah gerangan pemilik terompah yang telah mencelakakan perempuan tersebut. Akhirnya diketahui bahwa terompah tersebut ternyata milik Abu Kasim. Maka, untuk kesekian kalinya ia diadukan ke pengadilan lantaran sepatu sialnya itu. Ia pun disidangkan. Perkara diputuskan. Ia harus membayar denda kepada si terluka dan menanggung seluruh biaya perawatan si korban selama sakit.

Akibat terlalu banyaknya biaya-biaya yang selama ini dikeluarkannya untuk membayar denda sebab sepatu sialnya itu, ia kehabisan harta bendanya. Kini, tak sedikit pun harta bendanya yang tersisa, kecuali rumah, pakaian, serta sedikit perabot rumahnya. Ia kini merasa insaf. Ia teringat tatkala dahulu seorang temannya menasehatinya untuk segera membeli terompah baru. Waktu itu ia berjanji untuk segera membeli terompah baru. Akan tetapi ia selalu menunda-nundanya. Ia merasa sayang terhadap harta bendanya. Akibatnya, hartanya kini pun habis hanya untuk membayar denda akibat kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh terompahnya itu.

Akhirnya ia mendatangi sang kadi. Berkatalah ia kepadanya, “Wahai sang kadi, telah banyak kukeluarkan hartaku hanya untuk menebus denda akibat terompah sialku ini. Harta bendaku sekarang pun telah habis. Maka, dengan rendah hati hamba memohon kepada sang kadi untuk berkenan menyimpan dan mengamankan terompah hamba ini. Semoga dia tidak menimbulkan kerugian-kerugian atas hamba lagi.” Mendengar permohonan Abu Kasim, sang kadi pun tersenyum. Ia bersedia mengabulkan permohonan Abu Kasim dengan syarat dia mengubah sifat kikirnya menjadi sifat yang dermawan dan mau membantu sesamanya yang membutuhkan. Abu Kasim menyetujui syarat yang diajukan sang kadi tersebut.

Kini dia terbebas dari terompah yang telah beberapa kali mendatangkan kesialan baginya. Selanjutnya ia hidup tenang dan bahagia sebagai orang yang dermawan dan peduli terhadap sesamanya yang membutuhkan.

Cerita ini diambil dari buku ألعربية للناشئين (Bahasa Arab bagi Pemula) bagian 5, yang disadur dari buku Kisah-kisah dari Negeri Arab vol. 4, dengan penyesuaian seperlunya.

Siapa Bertengkar, Dia Akan Menyesal

PADA suatu ketika, hiduplah dua ekor kucing yang selalu bertengkar satu sama lain. Yang pertama adalah Si Hitam, sedangkan yang ke-dua Si Putih. Dalam hubungan pertemanan, keduanya tak pernah akur. Masalah sekecil apapun yang timbul di antara mereka, bisa menyebabkan pertengkaran yang dahsyat. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya berdamai juga. Begitulah mereka, bertengkar, bermaafan, bertengkar, bermaafan. Demikian seterusnya.

Pada suatu hari, mereka berdua hendak berjalan-jalan ke sebuah taman. Dalam perjalanan ke sana, keduanya menemukan sepotong roti yang tampak sedemikian lezat. Kebetulan keduanya memang sangat lapar karena belum makan sedari pagi. Maka air liur mereka pun bertetesan karena tergiur dengan sepotong roti itu. Entah siapa di antara keduanya yang melihat roti tersebut terlebih dahulu. Namun masing-masing mengklaim bahwa roti tersebut adalah miliknya. Yang lain tak mempunyai hak sedikit pun atasnya. Keduanya pun bertengkar dan saling adu mulut. Bahkan hampir saja mereka saling cakar mempertahankan pendirian masing-masing. Kebiasaan buruk mereka kambuh lagi.

Setelah cukup lama bertangkar, akhirnya mereka insaf. Keduanya sadar bahwa pertengkaran tak akan menyelesaikan permasalahan. Namun perihal sepotong roti itu? Siapa punya? Mereka pun akhirnya bersepakat untuk mencari penengah yang akan memutuskan perkara mereka. Maka ditunjuklah Si Monyet sebagai hakim. Keduanya percaya bahwa sang hakim akan memutuskan perkara mereka dengan adil.

Mereka pun berjalan bersama menuju tempat sang hakim. Sesampainya di sana, keduanya menceritakan permasalahan yang terjadi di antara mereka. Kemudian mereka memohon kepada sang hakim agar memutuskan siapa pemilik roti tesebut. Kepada keduanya, sang hakim berkata, “Baiklah, Saudarku, saya bersedia membantu Kalian. Namun apakah nantinya saya mendapatkan upah atas bantuan yang saya berikan?” Si Hitam dan Si Putih serentak menjawab, “Tentu, wahai Hakim. Kami akan memberimu upah yang layak.”

Si Monyet yang kini menjadi hakim mulai berbuat sesuatu untuk memutuskan perkara. Dia mengambil sebuah neraca yang mempunyai dua buah piringan di kanan-kirinya. Kemudian dipotonglah roti tersebut menjadi dua bagian yang tidak seimbang. Potongan pertama kecil, sedangkan yang ke-dua lebih besar. Diletakkanlah masing-masing potongan tersebut pada kedua piringan timbangan. Dan tentu saja, tidak seimbang. Yang ke-dua lebih berat daripada yang pertama.

Maka sang hakim mengurangi beberapa cuil bagian yang lebih berat, kemudian memakan cuilan roti itu. Setelah ditimbang kembali, bagian yang telah dikurangi tersebut ternyata tidak menjadi lebih seimbang, tetapi malah lebih ringan daripada bagian yang lain. Sang hakim kemudian ganti mengambil bagian yang satunya, lalu menyuil beberapa bagian untuk kemudian memakan cuilan tersebut. Setelah ditimbang kembali, keduanya tidak juga menjadi seimbang. Bagian ke-dua yang dicuil tersebut justru menjadi lebih ringan.

Demikianlah masing-masing potongan roti itu dikurangi terus-menerus secara bergantian. Selama itu pula timbangan tidak juga menjadi lebih seimbang, melainkan berat sebelah. Hal itu terus berlangsung hingga akhirnya tinggallah dua potong roti yang sangat sedikit.

Melihat tingkah sang hakim yang tampaknya janggal itu, Si Hitam dan Si Putih menjadi berang. Keduanya merasa diperlakukan secara tidak adil. Sang hakim yang diharapkan memberi putusan yang adil bagi mereka, kini justru menipu mereka. Mereka pun marah kepada sang hakim. Namun kemarahan itu tidak sampai menyulut keduanya berbuat kasar. Mereka hanya menuntut agar sisa roti yang tinggal sedikit itu dikembalikan kepada mereka. Namun apa reaksi sang hakim atas tuntutan keduanya? Ternyata dia tidak begitu saja memberikan sisa roti tersebut. Sambil mengambil kedua potong roti dari masing-masing piringan, sang hakim berkata, “Wahai Saudaraku, kedua potong roti ini adalah bagianku. Bukankah kalian telah berjanji kepadaku untuk memberiku upah? Inilah upahku itu.”

Si hitam dan si putih tidak bisa berbuat banyak. Keduanya lunglai. Mereka terpaksa membiarkan sang hakim mengambil sisa kedua potong roti itu. Tentu dengan perasaan yang masygul dan penuh sesal. Sembari meninggalkan sang hakim, keduanya bergumam, “Dasar monyet sialan!” [*]

Cerita ini disadur dari judul yang sama (berbahasa Arab) yang dimuat di buku Al-Lughah al-‘Arabiyyah li al-Madaris wa al-Ma’ahid bi Indunisiyya Vol. 1B, dengan penyesuaian seperlunya.