Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Meneladani Laku Sang Nabi

SEBAGAI orang Islam, sudah selayaknya kita meneladani perilaku yang telah dipraktikkan oleh Pemimpin Agung kita, Rasulullah Muhammad s.a.w. Ini bukan saja karena al-Qur’an telah mengisyaratkan hal itu (Q.S. al-Ahzab: 21), melainkan beliau memang patut dijadikan suri teladan karena keelokan akhlaknya. Bahkan Allah sendiri mengakui keluhuran budi pekerti Rasulullah, “Dan sesungguhnya Engkau Muhammad, benar-benar berbudi pekerti agung.” (Q.S. al-Qalam: 4)

Allah menggambarkan keluhuran akhlak Nabi antar lain melalui surat al-Tawbah: 128. Pada ayat tersebut Rasulullah dilukiskan sebagai: (1) berasal dari kaummu sendiri, (2) terasa berat olehnya penderitaanmu, (3) sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, dan (4) amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orag Mukmin.

Memang, Rasulullah begitu menginginkan keselamatan umatnya. Saat menjelang beliau wafat, kata terakhir yang beliau ucapkan bukanlah keluarga maupun kerabatnya, melainkan umatnya. “Umatku, umatku, umatku…” Demikianlah beliau memanggil-manggil kita, umatnya, karena rasa tanggung jawabnya, dan karena beliau khawatir sesuatu akan menimpa kita sepeninggal beliau.

Sifat kasih dan sayangnya terhadap sesama tidak diragukan lagi. Pernah pada suatu hari, ketika Rasulullah telah wafat, Abu Bakar bertanya pada Aisyah, puteri beliau yang menjadi isteri Nabi, “Perilaku Rasulullah apakah yang belum saya lakukan?” Aisyah menjawab, “Setiap pagi Rasulullah selalu menyuapi makanan terhadap seorang Yahudi yang buta di pasar.” Padahal si Yahudi tersebut selalu menghina dan mencaci maki Rasulullah.

Kemudian Abu Bakar pun melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh Rasulullah terhadap orang Yahudi. Namun apa yang terjadi setelah Abu Bakar menyuapi Yahudi itu? Si Yahudi berkata, “Siapakah Anda?” Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa menyuapimu setiap pagi.” Akan tetapi Yahudi kembali menimpali, “Bukan, Anda bukanlah orang yang biasa menyuapiku setiap pagi. Sebab, dia selalu menumbuk makanannya dengan halus. Sedangkan Engkau, makanan yang kamu suapkan kepadaku kasar.”

Abu Bakar akhirnya mengakui jati dirinya dan mengabarkan bahwa orang yang biasanya menyuapi si Yahudi adalah Rasulullah yang telah meninggal. Betapa kaget, terharu, dan menyesal si Yahudi mengetahui kabar bahwa orang yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah, orang yang selalu dia hina dan caci maki. Si Yahudi akhirnya menyatakan keislamannya karena kagum atas akhlak Rasulullah.

Sikap kasih sayang Rasulullah inilah yang hendaknya kita teladani. Semoga kita bisa. [*]

Jiwa dan Kesehatan: Aset yang Tak Ternilai

DALAM kehidupan kita, kesehatan merupakan aset yang tak ternilai harganya. Dengan kesehatan, kita dapat melakukan segala aktivitas harian kita secara optimal. Kita dapat bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan keluarga yang kita sayangi. Dengan kesehatan pula akan memungkinkan kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kesehatan, dengan demikian, merupakan aset yang sangat berharga bagi kita. Karena itu ia harus kita lindungi secara sungguh-sungguh.

Permasalahan akan muncul ketika kesehatan mulai terganggu. Apabila kesehatan telah mengalami gangguan, hal-hal buruk pun mulai menimpa diri kita. Kita tidak dapat lagi bekerja sebagaimana biasa, sehingga pendapatan otomatis terhenti. Di samping itu, biaya perawatan dan pengobatan tentu menjadi kendala tersendiri bagi kita. Permasalahan akan bertambah buruk apabila penyakit yang kita derita adalah penyakit kronis yang memerlukan perawatan secara khusus. Ini tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Biaya akan semakin membengkak apabila perawatan memerlukan waktu lama. Akibatnya, dana keluarga yang sudah kita anggarkan untuk masing-masing pos dalam kebutuhan keluarga mau tak mau akan tersedot untuk biaya pengobatan kita. Pada gilirannya, dampak-dampak lanjutan akan menimpa kita dan keluarga kita. Apabila kondisi ini benar-benar terjadi, hal itu tentu merupakan mimpi buruk dan ancaman serius terhadap masa depan keluarga kita.

Sebenarnya segala risiko buruk seperti itu dapat kita antisipasi apabila kita mempunyai dana cadangan. Dana cadangan ini akan sangat bermanfaat ketika kita dihadapkan dengan kebutuhan-kebutuhan mendadak seperti pengobatan ketika kita atau keluarga kita ada yang sakit. Sebab, kita tidak pernah tahu hal-hal apa yang akan menimpa diri kita atau keluarga kita di masa depan. Meminjam ungkapan Master Oogway dalam film Kungfu Panda, “Tomorrow is a mystery,” hari esok merupakan misteri, sesuatu yang tidak bisa kita prediksi. Kita tentu saja berusaha dan berharap yang terbaik, namun dalam hidup ini kemungkinan-kemungkinan buruk tetap saja ada. Dalam kondisi seperti itulah dana cadangan memainkan peran dan fungsinya. Dengan mempunyai dana cadangan, khususnya untuk perawatan kesehatan, hidup kita akan lebih tenang.

Mengenai pengelolaan dana cadangan ini terdapat beberapa alternatif, di antaranya adalah melalui asuransi. Menggunakan asuransi berarti kita menyerahkan sejumlah dana kepada pihak bank/ perusahaan asuransi untuk dikelola. Dana yang secara rutin kita bayarkan tiap bulan tersebut dinamakan premi. Premi inilah yang akan meng-cover biaya perawatan kesehatan dan pengobatan kita apabila suatu saat kita mengalami gangguan kesehatan. Keuntungan menggunakan sistem asuransi adalah kita bisa lebih disiplin dalam menyisihkan dana. Di samping itu, kita juga akan merasa tenang karena tak lagi pusing memikirkan biaya pengobatan apabila suatu saat kita sakit. Pada akhirnya, asuransi kesehatan akan memberikan proteksi bagi kita dan keluarga kita, mencapai kualitas hidup yang lebih baik, terjaganya standar hidup keluarga kita, serta untuk optimalisasi dana yang kita miliki.

Dalam memilih asuransi kesehatan sebaiknya kita mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain adalah: jenis perlindungan yang kita butuhkan, jumlah uang pertanggungan, mulai sedini mungkin, dan kredibilitas perusahaan tempat kita memercayakan pengelolaan dana kita. Untuk poin pertama dan kedua tentu menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kita, serta kemampuan finansial yang kita miliki. Sedangkan poin ketiga sangat penting, sebab semakin dini kita menyisihkan dana untuk asuransi kesehatan, semakin ringan premi yang kita bayarkan. Mengenai poin keempat, yakni kredibilitas perusahaan, hendaknya kita memilih lembaga keuangan yang tepercaya, berpengalaman, serta yang mempunyai pelayanan yang praktis dan ramah. Dalam konteks inilah Bank Central Asia (BCA) patut menjadi pilihan. Dengan pengalaman yang telah dijalaninya selama 55 tahun, BCA siap memberikan berbagai solusi perbankan kepada kita, termasuk dalam hal perlindungan kesehatan dan jiwa.

BCA yang dalam waktu dekat akan meluncurkan situs barunya berupa www.bca.co.id ini senantiasa berkomitmen untuk membantu dan mendampingi kita dalam mewujudkan rencana masa depan kita terhadap keluarga yang kita sayangi. Untuk memudahkan transaksi perbankan agar lebih praktis dan efisien, BCA juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat kita akses dengan mudah, yaitu ATM yang tersebar luas di berbagai daerah, internet banking, mobile banking, kartu prabayar, dan kartu kredit. Semua fasilitas itu disediakan BCA demi mewujudkan kemudahan transaksi bagi para nasabahnya.

Di samping itu, produk perbankan dan layanan perbankan yang dimiliki BCA sangat banyak dan bervariasi. Di antaranya adalah: produk simpanan dengan berbagai jenis dan variasinya, fasilitas kredit, layanan transaksi perbankan, layanan cash management, fasilitas ekspor-impor, fasilitas valuta asing, dan lain-lain. Bagi nasabah individual, BCA juga membantu kita dalam mewujudkan hunian ideal, kendaraan yang kita inginkan, rencana pendidikan bagi buah hati, investasi masa depan, jaminan perlindungan kesehatan dan jiwa, serta masih banyak lagi produk dan layanan yang lain. Semua produk dan layanan itu dipersembahkan oleh BCA semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan para nasabahnya yang kian kompleks dan beragam. Pada akhirnya, semua itu bertujuan untuk mewujudkan kebebasan finansial bagi para nasabahnya.

Perlindungan Jiwa dan Kesehatan Adalah Investasi
Ungkapan “perlindungan jiwa dan kesehatan adalah investasi” dapat kita maknai menjadi dua hal. Pertama, perlindungan jiwa dan kesehatan merupakan modal bagi kita dalam menjalani segala aktivitas harian kita. Sebab tanpa kesehatan, kita tidak mungkin melakukan segala aktivitas itu dengan baik. Karena itulah ia disebut sebagai modal atau investasi, yakni sesuatu hal yang kita tanamkan untuk memeroleh hal lain yang lebih besar berupa keuntungan. Dengan melindungi kesehatan secara baik berarti kita telah menanamkan modal untuk mencapai produktivitas kerja yang optimal, serta menghasilkan income yang memadai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan keluarga kita. Kedua, perlindungan jiwa dan kesehatan sebagai investasi dalam arti yang sesungguhnya. Dalam hal ini premi yang kita bayarkan untuk asuransi kesehatan berfungsi ganda, yakni untuk proteksi kesehatan dan jiwa, serta sebagai instrumen investasi. Dana kita akan dikelola oleh pihak bank/ perusahaan asuransi dan ditanamkan pada jenis-jenis investasi tertentu sehingga dapat berkembang.

Perlindungan jiwa dan kesehatan melalui asuransi yang digabungkan dengan investasi akan memberikan manfaat yang sangat besar kepada kita dan keluarga kita di masa depan. Dengan memilih fasilitas asuransi jenis ini berarti kita telah memberikan jaminan kepada keluarga kita terhadap dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yakni kesehatan dan kemakmuran. Dua hal inilah yang merupakan idaman setiap orang. Dua hal ini pula yang merupakan dua dari beberapa sumber kebahagiaan dan ketenteraman jiwa seseorang. Dengan menjamin dua hal ini terhadap keluarga kita berarti kita telah memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada mereka. Kita tentu bangga dan merasa bahagia apabila bisa melakukan hal itu.

Memang, hari esok adalah misteri. Namun langkah-langkah antisipasi dan proteksi dapat kita lakukan sejak dini. Semakin dini kita melakukan antisipasi, semakin siap kita menghadapi segala risiko. Semakin dini kita melakukan proteksi, semakin tenang perasaan di hati. [*]

Ulang Tahun

JIKA kita ditanya mengenai hari lahir kita, dapat dipastikan kita akan dengan fasih menjawab tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian. Pun jika ditanya apakah setiap tanggal itu kita merayakannya, mungkin sebagian besar kita akan menjawab dengan mantap, “Ya!” Bagaimana mungkin momen sepenting hari lahir kita lupakan dan kita biarkan begitu saja?

Yap, setiap tahun kita mengenang hari lahir kita dengan merayakannya. Di antara kita ada yang merayakan ulang tahun dengan pesta kecil-kecilan yang sederhana. Ada pula yang menghelat pestanya secara besar-besaran di hotel yang mewah. Semua itu dilakukan hanya untuk satu hal: demi menjaga memori individual atas awal kehadiran kita di dunia ini.

Pesta pun dihelat. Undangan disebarkan. Sajian dihidangkan. Lilin di atas tart yang membentuk angka usia ditiup, diiringi dengan lantunan lagu Happy Birthday to You oleh kerabat dan teman-teman. Akhirnya mereka pun menyalami kita sembari memberikan ucapan selamat ulang tahun. Pesta berakhir. Selanjutnya, apa?

Banyak di antara kita yang lupa—atau sengaja melupakan—substansi dan filosofi ulang tahun. Kebanyakan kita hanya terjebak pada selebrasi dan seremoni yang bersifat formal. Gegap-gempita pesta ulang tahun tak cukup mampu menghadirkan makna kepada diri kita.

Ulang tahun pada hakekatnya adalah pengingat bagi kita bahwa seiring berjalannya waktu, usia kita kian bertambah. Dengan bertambahnya usia, seyogyanya kedewasaan, kearifan, dan pengetahuan kita akan hakekat kehidupan kian meningkat. Pada gilirannya semua itu hendaknya menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani dan menyikapi tetek-bengek kehidupan ini.

Ulang tahun juga merupakan "warning" bagi kita bahwa jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Misalnya saja kita ditakdirkan hidup hingga usia 65 tahun. Jika hari ini kita berulang tahun ke 17, berarti kita masih memiliki jatah hidup selama 48 tahun. Di tanggal yang sama tahun berikutnya jatah hidup kita berkurang menjadi 47 tahun. Demikian seterusnya.

Dengan jatah hidup yang kian berkurang itu, sudah adakah kemajuan dan perkembangan yang kita capai dalam segala hal? Atau apakah kita masih gini-gini aja sama seperti tahun-tahun yang lalu? Seorang bijak mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan beruntung apabila hari ini dia memiliki pencapaian yang lebih baik daripada hari sebelumnya. Sebaliknya, apabila hari ini sama saja dengan kemarin berarti dia merugi. Bahkan apabila hari ini dia lebih jelek dari kemarin, maka dia telah merusak. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kualitas kehidupan kita selayaknya meningkat dari hari ke hari.

Dengan berkurangnya jatah hidup kita, sudah adakah kontribusi yang kita berikan kepada keluarga, lingkungan sekitar, dan bangsa-negara? Atau apakah kehadiran kita dalam sebuah masyarakat tidak memberikan arti dan sumbangan apapun kepada mereka? Sebagai makhluk sosial, alangkah sayangnya jika itu terjadi. Sebab, ungkapan menyatakan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang banyak memberikan kontribusi dan kemanfaatan bagi masyarakatnya.

Nah, apakah kualitas kehidupan kita telah meningkat dari waktu ke waktu? Apakah kita telah berkontribusi terhadap keluarga dan masyarakat seiring bertambahnya usia kita? Hari ulang tahunmu nanti merupakan momen yang tepat untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan tentunya aksi! [*]

Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka edisi 7 Maret 2010.

Kerja Keras

“KERJA KERAS ADALAH ENERGI KITA.” Demikianlah tagline sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam tayangan iklannya, perusahaan itu menggambarkan bahwa kemajuan yang dicapai Indonesia saat ini berkat energi yang digali dari alam. Demikian juga kemajuan yang dicapai perusahaan tersebut, tidak lain karena sebuah “energi”, yaitu kerja keras. Kerja keras yang dilakukan oleh perusahaan membuahkan kemajuan yang sekarang dapat kita saksikan bersama.

Memang, kemajuan dalam hal apapun tak akan dapat terwujud tanpa melalui ketekunan dan kerja keras. Bekerja dengan keras berarti kita melakukan suatu pekerjaaan dengan penuh kesungguhan dan tanpa mengenal putus asa. Segala potensi yang kita miliki, baik tenaga maupun pikiran, kita kerahkan sepenuhnya untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Sejarah mencatat bahwa kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Jepang disebabkan usaha keras mereka. Dalam waktu yang relatif singkat setelah negara itu kalah oleh Sekutu pada Perang Dunia II, mereka bangkit membangun perekonomian mereka. Hasilnya, Jepang sekarang menjadi salah satu negara terkaya di dunia, dan memiliki teknologi yang sangat maju.

Contoh lainnya adalah Thomas Alva Edison. Penemuan fenomenalnya berupa lampu pijar tidaklah datang begitu saja. Dalam melakukan risetnya, dia sangat tekun dan bekerja dengan keras tanpa kenal putus asa. Setiap percobaan yang tidak berhasil dia anggap sebagai ilmu baru yang memperkaya pengetahuannya. Akhirnya dia pun berhasil mewujudkan keinginannya menciptakan lampu pijar. Kini, kita yang hidup setelahnya bisa menikmati hasil kerja kerasnya.

Dalam kehidupan ini, kita tentu mempunyai keinginan dan cita-cita. Dan tentunya kita sangat berharap cita-cita itu dapat terwujud, bukan? Bagaimana cara mewujudkannya? Tidak ada jalan lain selain kerja keras! Bekerja keras meniscayakan kita untuk tidak bermalas-malasan.

Ibarat kita hendak bepergian ke Jakarta, dan kita telah mempunyai sebuah kendaraan. Tentu kendaraan itu tak akan bisa berjalan dan mencapai Jakarta jika kita tidak mengisinya dengan bahan bakar berupa bensin. Demikian juga kita yang mempunyai keinginan dan cita-cita.

Tuhan telah membekali kita "kendaraan" berupa anggota tubuh yang lengkap dan pikiran yang sempurna. Namun apabila bekal tersebut tidak kita maksimalkan dengan bekerja dan berpikir keras, apakah cita-cita bisa tercapai begitu saja? Tentu tidak. Cita-cita hanya akan terwujud jika kita berusaha dengan tekun dan keras. Dengan demikian kerja keras dapat diibaratkan sebagai bahan bakar atau energi yang akan menggerakkan kita untuk menggapai cita-cita.

Ya, kerja keras dan ketekunan memang energi kita. Energi untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita. [*]

Sesal Tak Berujung

PELAN-PELAN mereka menurunkanku dari keranda besi yang mengangkutku dari rumah hingga tanah pekuburan ini. Tak tega rasanya aku meninggalkan anak, isteri, dan saudara-saudaraku yang selama ini aku cintai. Sementara ibuku tak kuasa menahan tangisnya yang begitu pilu. Ah, bahkan teman-teman dan kerabatku pun hanya bisa mengantarkanku hingga tempat ini, tanpa bisa menemaniku. Lagipula, bagaimana mungkin mereka mau menemani seseorang yang berada di ruangan yang hanya berukuran dua kali setengah meter saja. Hanya muat untuk seorang. Ruangan yang begitu gelap, pengap, dan mencekam itu.

Aku sudah dapat membayangkan hari-hariku nanti yang hanya dan akan selalu diselimuti dengan kegelapan. Hari-hari yang tiada tentu siang dan malamnya. Seakan sepanjang waktu yang berlangsung hanya malam. Gelap gulita. Belum lagi mahluk apa yang akan diutus menemaniku di tempat itu nanti. Malaikatkah, atau justeru ular dan kalajengking yang perlahan-lahan menggigit dan melumat sekujur tubuhku? Ah, ngeri aku membayangkan itu semua.

Perlahan-lahan air mataku mulai mengaliri pipiku. Menetes di lembaran putih kain kafan yang membalut seluruh tubuhku. Tangisku kian dalam tatkala mereka memasukkanku ke dalam liang lahat yang sangat sempit itu. Pada saat-saat seperti inilah aku mulai terkenang akan segala amal perbuatanku sewaktu hidup dulu. Aku menyesal mengapa dulu aku tidak pernah dengan tulus mengabdikan hidupku untuk beribadah kepada-Nya. Aku menyesal mengapa hidupku dulu kusia-siakan dan kuhabiskan hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan hawa nafsuku.

Aku menyesal mengapa dulu hartaku kuhabiskan di jalan yang tidak benar. Mengapa dulu aku tidak menafkahkan saja harta-harta itu di jalan kebenaran. Di jalan Allah yang bisa menyelamatkanku dalam keadaan seperti sekarang ini.

Semakin deras air mataku membanjiri pipiku. Aku sangat menyesal mengapa dulu aku menyia-nyiakan waktuku yang begitu lama itu. Anugerah begitu besar yang aku terima ternyata tak cukup mampu untuk menyadarkanku akan kasih sayang Sang Pencipta kepadaku. Aku malah terlena dan mabuk atas semua yang aku terima dalam kehidupan ini.

Ah, kehidupan dunia yang begitu indah dan gemerlap itu telah melenakanku untuk beribadah kepada-Nya. Kini aku menyadari betapa semua itu hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Kehidupan dunia yang dulu kupuja-puja itu nyatanya tak lebih dari kesenangan yang menipu. Sangat menipuku. Dan inilah ternyata kehidupan yang hakiki itu. Allah, ampunilah hamba-Mu ini. ..

Kini aku tersadar betapa waktu sangat berarti bagi kehidupanku kini. Dua puluh empat jam yang aku terima setiap harinya selama empat puluh tahun telah kusia-siakan. Kenapa hanya untuk beribadah tak lebih dari satu jam perhari, aku begitu malas. Aku hanya disibukkan dengan kerja dan kerja, menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Hingga aku lupa akan diri-Nya. Hingga kematian menjemputku. Hingga aku mengunjungi pekuburan ini. Ah, semua ini hanya akan menjadi penyesalan yang tak berujung, di bilik yang gelap, pengap, dan mengerikan ini.

Kian deras tangisku menggema di liang lahat ini. Aku menjerit dan meronta ingin bangkit dan hidup kembali. Untuk menebus segala dosa dan kesalahanku. Untuk dengan setulus hati mengabdi kepada-Nya. Dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kepada orang-orang di sekitarku. Namun apa daya, aku hanya bisa menangis dan menyesali diriku sendiri. Tanpa bisa memutar waktu. Bahkan untuk menggerakkan anggota tubuhku sendiri pun aku tak bisa.

Perlahan-lahan mereka menutupkan papan di atasku. Kemudian mengurugku dengan tanah merah pekuburan yang lembab itu. Selanjutnya, yang ada hanyalah kegelapan yang hitam dan kelam. Begitu mencekam. [*]

Bunga-bunga Sulaman Ibuku

KETIKA aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini. Nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu, dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari ke sini, dan duduklah di pangkuan ibu." Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit. Sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Ya Rabb, apa yang Engkau lakukan? " Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?" Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku."

Subhanallah... beruntunglah orang-orang yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian-kejadian dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin....

Ini adalah catatan seorang sahabat yang di-tag-kan kepada saya di Facebook.

Hikmah dan Manfaat

TIADA sesuatupun di dunia ini—baik yang bersifat material maupun non-material—yang sis-sia dan tidak berguna. Sekecil apapun, pasti terkandung hikmah dan manfaat di dalamnya. Tergantung bagaimana kita memandang dan menyikapi hal tersebut.

Misalnya saja tanaman enceng gondok. Dahulu mungkin kita memandangnya sebagai tanaman tak berguna yang hanya merusak keindahan sungai dan kawasan perairan lainnya. Namun, di tangan seseorang yang kreatif, dia menjadi bahan yang sangat berharga untuk menciptakan benda-benda kerajinan.

Demikian juga tulang-belulang ayam yang kelihatannya sepele. Siapa sangka di tangan seorang perajin asal Boyolali dia menjadi komponen utama yang dapat menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi.

Kebanyakan kita melihat sesuatu hanya terhadap sisi luarnya saja. Kita enggan merenung dan berpikir sedikit lebih keras untuk menemukan manfaat atas suatu benda, atau hikmah di balik kejadian yang kita alami.

Contoh lain yang bersifat non-material adalah kegagalan. Atas sebuah kegagalan yang kita alami, sebenarnya kita berhak dan pantas untuk kecewa. Akan tetapi kekecewaan tentu tidak akan mendatangkan manfaat bagi kita. Alangkah lebih bagus jika kita berpikir positif atasnya, dan berusaha menemukan hikmah yang terkandung di balik kegagalan tersebut.

Andaikata Thomas Alva Edison kecewa dan frustasi ketika dulu dia gagal dalam eksperrimen-eksperimennya, kemudian dia berhenti melakukan eksperimen, mungkin saat ini dunia tidak dapat menikmati lampu pijar hasil karyanya. Namun dia memilih untuk mengambil sisi positif dai kegagalan yang dia alami, sehingga kita bisa merasakan manfaat temuan-temuannya.

Di mata Edison, kegagalan dalam sebuah eksperimen bukanlah akhir segalanya. Dia justeru menganggapnya sebagai pelajaran yang sangat berharga. Dari kegagalan itu, dia mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian dia bisa menghindari kesalahan yang sama dalam eksperimen-eksperimen selanjutnya. Dia mengambil hikmah dari kegagalannya.

Memang, hikmah dan manfaat atas suatu hal terkadang tersembunyi. Diperlukan sikap yang bijak dan pandangan yang jernih untuk dapat meraihnya. Maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah berpikir positif terhadap suatu perkara. Yakinlah bahwa apapun yang diciptakan oleh Tuhan pastilah mengandung hikmah dan manfaat bagi manusia. Selanjutnya kitalah yang berkewajiban untuk menemukan hikmah tersebut. [*]

Renungan Ibu

SUATU KETIKA seorang bayi siap untuk dilahirkan di dunia.
Menjelang diturunkan dia bertanya kepada Tuhan, "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia. Akan tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? Saya begitu kecil dan lemah," kata si bayi. Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."

"Tapi di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini cukup bagi saya untuk bahagia," demikian kata si bayi. Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya, sehingga kamu akan lebih lebih berbahagia." Si bayi bertanya kembali, "Dan apa yang saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?" Sekali lagi Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara kamu berdo'a."

Si bayi masih belum puas, dia pun bertanya lagi, "Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Lantas siapa yang akan melindungi saya?" Dengan penuh kesabaran, Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun." Si bayi tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya, "Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi." Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkanmu bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu."

Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar, dan sang bayi dengan lirih bertanya, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberi tahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?" Tuhan pun menjawab, "Kamu dapat memanggil malaikatmu... ibu... Kenanglah ibu yang selalu menyayangimu, untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi.

Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu. Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah, dan memohonlah maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu. Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa mendatang, ketika ibumu telah tiada. Ketika itu tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kedatanganmu.

Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia. Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya. Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya. Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu di setiap hembusan nafasnya. Kembalilah segera, peluklah ibu yang selalu menyayangimu. Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu. Dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya. Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya... [*]

Ulang Tahun

JIKA kita ditanya mengenai hari lahir kita, dapat dipastikan kita akan dengan fasih menjawab tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian. Pun jika ditanya apakah setiap tanggal itu kita merayakannya, mungkin sebagian besar kita akan menjawab dengan mantap, “Ya!” Bagaimana mungkin momen sepenting hari lahir kita lupakan dan kita biarkan begitu saja?

Yap, setiap tahun kita mengenang hari lahir kita dengan merayakannya. Di antara kita ada yang merayakan ulang tahun dengan pesta kecil-kecilan yang sederhana. Ada pula yang menghelat pestanya secara besar-besaran di hotel yang mewah. Semua itu dilakukan hanya untuk satu hal: demi menjaga memori individual atas awal kehadiran kita di dunia ini.

Pesta pun dihelat. Undangan disebarkan. Sajian dihidangkan. Lilin di atas tart yang membentuk angka usia ditiup, diiringi dengan lantunan lagu Happy Birthday to You oleh kerabat dan teman-teman. Akhirnya mereka pun menyalami kita sembari memberikan ucapan selamat ulang tahun. Pesta berakhir. Selanjutnya, apa?

Banyak di antara kita yang lupa—atau sengaja melupakan—substansi dan filosofi ulang tahun. Kebanyakan kita hanya terjebak pada selebrasi dan seremoni yang bersifat formal. Gegap-gempita pesta ulang tahun tak cukup mampu menghadirkan makna kepada diri kita.

Ulang tahun pada hakekatnya adalah pengingat bagi kita bahwa seiring berjalannya waktu, usia kita kian bertambah. Dengan bertambahnya usia, seyogyanya kedewasaan, kearifan, dan pengetahuan kita akan hakekat kehidupan kian meningkat. Pada gilirannya semua itu hendaknya menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani dan menyikapi tetek-bengek kehidupan ini.

Ulang tahun juga merupakan warning bagi kita bahwa jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Misalnya saja kita ditakdirkan hidup hingga usia 65 tahun. Jika hari ini kita berulang tahun ke 17, berarti kita masih memiliki jatah hidup selama 48 tahun. Di tanggal yang sama tahun berikutnya jatah hidup kita berkurang menjadi 47 tahun. Demikian seterusnya.

Dengan jatah hidup yang kian berkurang itu, sudah adakah kemajuan dan perkembangan yang kita capai dalam segala hal? Atau apakah kita masih gini-gini aja sama seperti tahun-tahun yang lalu? Seorang bijak mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan beruntung apabila hari ini dia memiliki pencapaian yang lebih baik daripada hari sebelumnya. Sebaliknya, apabila hari ini sama saja dengan kemarin berarti dia merugi. Bahkan apabila hari ini dia lebih jelek dari kemarin, maka dia telah merusak. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kualitas kehidupan kita selayaknya meningkat dari hari ke hari.

Dengan berkurangnya jatah hidup kita, sudah adakah kontribusi yang kita berikan kepada keluarga, lingkungan sekitar, dan bangsa-negara? Atau apakah kehadiran kita dalam sebuah masyarakat tidak memberikan arti dan sumbangan apapun kepada mereka? Sebagai makhluk sosial, alangkah sayangnya jika itu terjadi. Sebab, ungkapan menyatakan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang banyak memberikan kontribusi dan kemanfaatan bagi masyarakatnya.

Nah, apakah kualitas kehidupan kita telah meningkat dari waktu ke waktu? Apakah kita telah berkontribusi terhadap keluarga dan masyarakat seiring bertambahnya usia kita? Hari ulang tahunmu nanti merupakan momen yang tepat untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan tentunya aksi! [*]

Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka edisi 7 Maret 2010.

Shalat dan Konsekuensi-Konsekuensi yang Mengiringinya

Dalam agama Islam, shalat merupakan sebuah kewajiban yang sangat penting. Bahkan jenis ibadah ini menjadi ciri khas yang membedakan antara orang Muslim dengan yang bukan Muslim. Dalam sebuah hadits, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Sesungguhnya janji antara kita dengan mereka adalah shalat. Maka barang siapa meninggalkan shalat, berarti dia telah mengingkari (perjanjian itu)." (H.R. Al-Nasa’i).

Pada hadits lain, beliau juga mengatakan bahwa shalat merupakan mikraj orang Mukmin. Ini berarti bahwa shalat adalah sarana bagi orang Mukmin untuk taqarrub (mendekat) dan sampai ke Hadirat Allah S.W.T. secara spiritual. Melalui shalat, kita seakan-akan berkomunikasi secara langsung dan menghadap kepada Allah.

Pada hakikatnya, shalat diperintahkan dengan tujuan untuk mengingatkan seorang hamba kepada Sang Khaliq. "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku." Demikian firman Allah dalam Q.S. Thaha ayat 14. Maka melalui berbagai gerakan, ucapan, dan kekhusyukan yang ada pada ritual shalat ini, diharapkan dapat menjadi media bagi kita untuk mengingat dan ber-munajat kepada-Nya.

Namun, apakah shalat bermakna hanya sebatas itu? Sekadar ritual formal yang tidak membawa implikasi positif terhadap lingkungan sekeliling kita? Jika demikian, alangkah sempitnya pemahaman keagamaan kita. Sebab, pada dasarnya agama Islam diturunkan sebagai manifestasi kasih sayang terhadap segala elemen yang ada di sekitar kita (rahmatan li al-'alamin), bukan hanya untuk individu saja.

Dalam surat al-‘Ankabut ayat 45 Allah mengatakan bahwa shalat akan dapat mencegah segala perbuatan keji dan mungkar. Ini berarti bahwa dengan shalat yang dilakukannya, seorang hamba seharusnya sanggup untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan hukum agama dan hukum yang berlaku di masyarakat. Bahkan dalam cakupan yang lebih luas, seorang hamba—dengan shalat yang dia kerjakan—seharusnya mampu mencegah orang lain melakukan hal-hal tercela tadi. Dengan ungkapan lain, shalat idealnya dapat berperan sebagai kontrol diri dan kontrol sosial bagi orang Mukmin.

Dalam ayat lain (Q.S. Al-Ma'un 1-7) Allah berfirman bahwa kecelakaan akan menimpa orang-orang yang shalat namun dia lalai akan makna dan hakikat yang terkandung dalam shalat itu sendiri. Shalat yang dia lakukan hanya untuk pamer belaka, tanpa menghayati makna dan pesan yang termuat di dalamnya, serta tidak memberikan dampak positif apapun dalam kehidupannya secara personal maupun dalam masyarakat.

Orang-orang seperti ini dicap oleh Allah sebagai “pendusta agama.” Pendusta agama, dalam surat tersebut, adalah orang-orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, lalai dalam shalatnya, riya, dan enggan membantu saudaranya.

Dari sini tampak bahwa shalat pada hakikatnya ditujukan bukan hanya untuk menjaga keharmonisan hubungan spiritual seorang hamba kepada Allah, melainkan juga harus dapat menjadi cambuk bagi seseorang untuk berbuat kebaikan dan memberantas perbuatan yang menyimpang dari rel agama dan sosial. Shalat membawa konsekuensi-konsekuensi yang harus dijalankan oleh seorang hamba.

Sudahkah kita melaksanakan konsekuensi-konsekuensi tersebut? Sudahkah shalat yang kita lakukan lima kali dalam sehari semalam itu memberikan implikasi positif terhadap diri dan masyarakat kita? Anda lebih tahu akan diri Anda. Wallahu a’lam bi al-shawab. [*]

Meninjau Kembali Sikap Keberagamaan Kita

Dalam sejarah peradaban umat manusia, telah banyak kekerasan dan peperangan yang didasarkan dan mengatasnamakan agama. Sebut saja misalnya perang salib dan beberapa kasus pengeboman yang terjadi di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Yang terbaru dan masih hangat dalam pikiran kita adalah kasus pengeroyokan ormas Islam tertentu terhadap ormas lainnya. Kita mengenalnya sebagai “tragedi monas” yang terjadi pada tanggal 1 Juni tahun lalu.

Kita tentu prihatin menyaksikan saudara-saudara kita terlibat pertengkaran seperti itu. Kita sekaligus khawatir orang-orang yang memilih untuk tidak beragama akan semakin sinis dan apatis terhadap agama. Mungkin mereka akan berkata, orang-orang yang katanya mempunyai ajaran moral yang tinggi kok malah melakukan perbuatan yang tidak bermoral. Bukankah agama katanya mengajarkan perdamaian, kerukunan, dan kasih sayang. Tetapi mengapa umat beragama justru mempraktikkan perilaku yang beringas dan tak beradab.

Jika demikian, apa gunanya beragama, kalau pada akhirnya orang-orang yang memeluk agama pun berbuat tindakan yang amoral. Agama hanya menciptakan kekerasan, peperangan, dan teror! Demikianlah kira-kira komentar mereka menyaksikan umat beragama sibuk bertengkar sendiri-sendiri.

Sebagai orang yang beragama, kita tentu sangat prihatin atas itu semua. Kejadian-kejadian semacam itu seharusnya menggugah kesadaran kita dalam beragama. Sudahkah kita memahami dan mempraktikkan ajaran-ajaran agama kita dengan baik? Telahkah kita menghayati dan mengamalkan kalam Allah yang menganjurkan kita untuk berperilaku rahmatan li al-‘alamin (menyayangi semua mahluk)? Atau, sudahkah kita sesuai dengan anjuran Nabi yang menyatakan bahwa al-Muslimu man salima al-Muslimuna min lisanihi wa yadihi (orang Islam yang benar adalah apabila Muslim lainnya aman dari perkataan dan perbuatan buruknya)?

Mencermati kejadian-kejadian di atas, serentak kita akan menjawab: belum, kita belum sepenuhnya menghayati keberagamaan kita secara ideal. Maka diperlukan introspeksi dan otokritik ke dalam diri kita mengenai keberagamaan kita.

Dalam kehidupan masyarakat yang plural ini, sikap respek, tenggang rasa, dan empati antarkelompok masyarakat sangat diperlukan. Setiap kelompok hendaknya mengutamakan sikap kebersamaan daripada individualistis. Khususnya dalam beragama, klaim benar sendiri dan menganggap sesat atas agama lain hendaknya dieliminasi. Sebab, itu semua hanya akan menimbulkan ketidakharmonisan dan kesalahpahaman hubungan di antara mereka. Bahkan yang lebih parah dapat mengakibatkan kebencian dan permusuhan di antara mereka.

Masing-masing agama tentu mempunyai prinsip-prinsip kepercayaan dan tata-cara beribadat yang pastinya berbeda. Namun, terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, bukankah semua agama menganjurkan perdamaian, kerukunan, dan kasih sayang kepada sesama manusia? Simpul persamaan itulah yang hendaknya kita perhatikan. Jika kita hanya sibuk menonjolkan perbedaan, mencari-cari cacat dan kesalahan, serta mengunggulkan agama kita atas yang lain, selamanya kita tidak akan dapat mewujudkannya. Sebab, masing-masing kelompok memandangnya dalam perspektif yang berbeda.

Maka sekali lagi, diperlukan sikap kedewasaan dalam beragama. Dalam ranah kehidupan sosial yang plural ini, perbedaan hendaknya kita tanggalkan, selanjutnya kita cari persamaan-persamaan di antara kita semua. Ini semua dilakukan demi tujuan mewujudkan perdamaian dan kerukunan dalam masyarakat. Siapa lagi yang akan melakukan itu semua jika bukan kita, umat beragama? Sebab, kita semua adalah one sky, one earth, one humankind, and one spirit. Sebab, kita semua bernaung di bawah langit yang sama, bukan? [*]

Puasa Tak Sekedar Menahan Lapar

Segala bentuk perintah Tuhan yang ditujukan kepada manusia tidak terlepas dari kemanfaatan yang dikandung oleh perintah tersebut. Tuhan memerintahkan sebuah perkara bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan demi kemaslahatan hidup umat manusia. Tak terkecuali puasa.

Selain sebagai sebuah ibadah yang mempunyai nilai teologis (berupa penghambaan dan pengabdian diri manusia kepada Tuhannya), puasa juga mempunyai kandungan nilai yang bersifat humanis. Artinya, dalam puasa terkandung pesan-pesan kemanusiaan dan untuk kebaikan manusia. Di antaranya adalah pesan solidaritas sosial dan tepa selira kepada masyarakat kelas bawah.

Selain itu, puasa juga merupakan “kawah candradimuka” bagi manusia untuk menempa mereka menjadi insan yang –dalam istilah agama disebut— bertakwa. Prof. Dr. Nurcholis Madjid mendefinisikan takwa sebagai sebuah sikap seseorang yang senantiasa merasa diawasi oleh Tuhan dalam setiap tindakannya.

Sikap merasa diawasi itulah yang akan memotivasi mereka untuk senantiasa berbuat kebaikan dan meninggalkan segala perbuatan tercela. Karena mereka yakin bahwa segala perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, kelak.

Sejatinya, itulah makna tertinggi puasa. Bukan sekedar menahan haus dan lapar. Adapun larangan untuk makan, minum, dan berhubungan seksual, adalah perlambang bagi manusia agar menahan diri dari keinginan dan kenikmatan duniawi yang bersifat temporer.

Sayangnya, kebanyakan dari kita masih melihat puasa hanya sebagai sebuah ritual ibadah yang bersifat formalistik. Kita kurang memahami makna esoteris puasa. Sehingga meskipun sebulan penuh berpuasa, tidak ada pengaruh apapun yang ditinggalkan oleh spiritual training tersebut. Fenomena KKN, suap-menyuap, dan mafia peradilan pun jalan terus, seiring dengan berakhirnya masa training itu.


Perlu Terapkan Spirit Puasa dalam Keseharian
Agaknya nilai-nilai esoterik yang terkandung dalam ibadah puasa berupa “pengabdian”, “merasa diawasi”, dan “menahan diri” ini perlu dihayati dan selanjutnya diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam bidang pemerintahan, penerapan spirit puasa ini akan mencetak pejabat-pejabat negara yang siap melayani masyarakat dan bersih dari hal-hal yang tercela.

Demikian juga bagi generasi muda, terutama mahasiswa, implementasi spirit puasa akan membentuk mereka menjadi generasi yang siap mengabdi dan berkorban untuk kepentingan masyarakat dan bangsa, bermoral lurus, serta tahan dalam menghadapi segala godaan nafsu duniawi yang merusak kredibilitas mereka.

Jika hal ini dapat diterapkan dengan baik sejak dini, tentu masa depan bangsa ini akan menjadi cerah. Karena merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa-masa yang akan datang.