Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Malam Harmoni Komunitas FUPK


DALAM rangka penutupan kegiatan akademik tahun ini, para santri Ma’had Bilingual IAIN “Walisongo,” Kamis (2/7), mengadakan kegiatan berupa malam keakraban dan panggung gembira. Acara yang dihelat di Aula Ma’had IAIN “Walisongo” yang terletak di kompleks Perumahan Depag, Ngalian, Semarang, itu berlangsung sangat meriah. Berbagai art performance ditampilkan para santri yang tergabung dalam komunitas mahasiswa Program Khusus Fakultas Ushuluddin (FUPK) itu.

Sebagai pembuka acara, dilakukan pembacaan syair-syair pujian dan kisah perjalanan hidup Sang Rasul yang termuat dalam kitab al-Barzanji. Penampilan ini sebagai bentuk kekaguman, apresiasi, dan keteladanan seorang hamba kepada Sang Nabi sebagai Pemimpin Agung mereka. Pembacaan syair pujian yang diiringi dengan alunan musik rebana memperkuat nuansa estetik seni musik yang khas. Ada unsur seni, budaya, dan spiritualitas yang membaur di sana.

Selanjutnya, masing-masing angkatan santri FUPK menampilkan art performance secara bergantian. Ada yang menampilkan lakon teater, musik, puisi, paduan suara, dan monolog. Uniknya, semua penampilan tersebut dikemas dalam bentuk yang segar, tidak kaku, dan penuh dengan nuansa satiris dan humor. Praktis, acara yang berlangsung selama hampir tiga jam itu penuh dengan tawa, sehingga menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

Momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh para santri Ma’had Bilingual IAIN “Walisongo.” Sebuah momen yang menjadi sebentuk peneguhan atas eksistensi mereka di tengah mahasiswa IAIN yang lain. Sebuah momen yang menciptakan rasa kebersamaan, keakraban, dan kesatuan di antara mereka. Maka tak salah tema kegiatan malam itu adalah “Malam Harmoni Komunitas FUPK.”

Acara ditutup dengan tausiyah dan doa yang disampaikan oleh sesepuh komunitas FUPK sekaligus Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN “Walisongo,” Dr. H. Abdul Muhayya, M.A. Kegiatan malam itu sungguh merupakan momen yang tak terlupakan bagi para santri. Layak sebagai sebuah refleksi sekaligus hiburan setelah satu semester terakhir ini mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akademik yang sangat padat. [*]

Kuliah Subuh Bersama Prof. Amin Syukur


Pagi itu suasana ruang aula Ma’had IAIN “Walisongo” di kompleks perumahan Depag, Ngalian, Semarang, begitu hening. Para santri-mahasiswa telah duduk dengan tertib memenuhi ruangan tersebut. Mereka mengitari seorang ustadz-dosen yang berada di sisi samping-dalam ruangan. Pakaian mereka rapi, bersarung dan berpeci. Di tangan mereka telah siap alat tulis dan sebuah buku berbahasa Arab berwarna merah kecoklatan. Ya, pagi itu mereka memang tengah mengikuti kuliah subuh yang diisi oleh Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, M.A., guru besar ilmu tasawuf Fakultas Ushuluddin IAIN “Walisongo” Semarang, yang juga pernah mengasuh rubrik Tasawuf Interaktif di harian Suara Merdeka.

Kuliah subuh ini dilaksanakan secara rutin pada Selasa pagi sehabis shalat subuh. Forum tersebut mengkaji sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali berjudul Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila ‘Allam al-Ghuyub. Kitab kuning setebal 320 halaman ini berbicara tentang tuntunan akhlaq-moral-spiritual bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan agar senantiasa berhati lembut dan dekat kepada Sang Pencipta.

Membaca bab demi bab buku ini seakan menjadi penyejuk hati dan penenang bagi jiwa kita yang terkadang keras dan angkuh. Menghayati lembar demi lembar kitab ini akan meningkatkan spiritualitas dan optimisme kita dalam menyikapi realitas kehidupan yang terkadang tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita.

Menariknya, selain menguraikan petuah-petuah yang berkenaan dengan tuntunan moral-spiritual, kitab ini juga menukil kisah-kisah teladan dari orang-orang terdahulu. Misalnya kisah tentang seorang laki-laki yang diampuni segala dosanya karena dia memberi minum seekor anjing yang hampir mati karena kehausan. Terkait dengan ini, Nabi Muhammad bersabda bahwa terhadap setiap mahluk hidup hendaknya kita mengasihi dan menyayangi.

Anjuran Nabi tersebut menyiratkan bahwa sebagai manusia, seharusnya kita ramah terhadap alam, baik itu berupa binatang, tumbuhan, maupun terhadap sesama manusia. Alam hendaknya jangan dipahami sebagai obyek yang siap dieksploitasi habis-habisan. Tetapi anggaplah ia sebagai mitra kita yang saling memberikan manfaat. Kita boleh memanfaatkannya sekadar kebutuhan. Akan tetapi kita juga wajib menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Ini sesuai dengan ungkapan bahwa Islam adalah rahmatan li al’alamin, manifestasi kasih sayang untuk seluruh alam.

Selasa (28/4) pagi itu tema yang dibahas adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. “Ketahuilah bahwa kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya harus diimplementasikan dengan menaati keduanya dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh keduanya. Sedangkan kecintaan Allah kepada para hambanya diwujudkan melalui pemberian rahmat dan ampunan kepada mereka.” Demikian Prof. Amin Syukur membacakan baris demi baris kalimat berbahasa Arab itu, kemudian memaknai dan menguraikannya dalam bahasa Indonesia.

Meskipun kuliah subuh ini mengkaji kitab yang ditulis lebih dari sembilan abad yang lalu, namun isi yang terkandung di dalamnya senantiasa aktual dan relevan untuk kehidupan masa kini. Sebab tema-tema yang dibahas mengenai tuntunan moral, spiritual, dan eskatologi Islam yang universal dan tak terikat oleh batasan ruang-waktu. Ah, sungguh nikmat mengikuti uraian-uraian penyejuk hati ini, di sebuah awal pagi yang masih hening dan sepi dari kesibukan-kesibukan harian. [*]

Ngaji Sastra Bareng Gus Mus dan Ahmad Tohari


Pagi itu (Rabu, 25/3) para mahasiswa memadati ruangan Auditorium II Kampus III IAIN "Walisongo" Semarang. Mereka berduyun-duyun ke sana karena didorong rasa penasaran untuk menyaksikan dan mendengarkan ceramah dari para pembicara mashur. Ya, hari itu IAIN memang tengah mengadakan seminar budaya yang meghadirkan K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Selain Gus Mus, pembicara yang hadir dalam seminar bertajuk "Guyub Rukun Bareng Gus Mus: Menebar Kedamaian lewat Sastra" itu adalah novelis Ahmad Tohari dan Drs. Redyanto Noor, M.Hum., pengajar pada Program Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro (UNDIP).

Sebagai pembuka acara, panitia menyuguhkan happening art dari grup teater Fakultas Tariyah. Mereka mempersembahkan pembacaan dan musikalisasi puisi karya K.H. Mustofa Bisri. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian makalah dan "tausiyah" dari para pembicara. Oleh moderator Prasetyo Utomo, Redyanto Noor didaulat untuk berbicara pada kesempatan pertama. Dia mengulas tentang karya-karya K.H. Mustofa Bisri.

Dalam uraiannya, Redyanto mengungkapkan bahwa karya-karya Gus Mus selalu ditulis dalam bentuk yang bersahaja. "Jangan berharap Anda akan menemukan uraian-uraian yang bombastis dan berbunga-bunga dari karya-karya Gus Mus," katanya, sembari membacakan cuplikan beberapa cerpen dan puisi karangan Gus Mus.

Kebersahajaan karya-karya Gus Mus tersebut terletak pada tipografi, bunyi, diksi, imaji, dan maknanya. "Maka, membaca sastra karya Gus Mus kita tidak perlu mengernyitkan dahi berpikir keras, tidak perlu menahan nafas memusatkan konsentrasi, tidak perlu mengepalkan tinju menghimpun emosi," tulisnya dalam makalah berjudul Mentradisikan Kebersahajaan Gus Mus.

"Sastra karya Gus Mus," lanjutnya, "akan menjadikan kita berpandang bening, berperasa lembut, dan berpikir jernih."

Pembicara ke-dua adalah penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari. Tidak banyak uraian yang disampaikan oleh kang Tohari. Namun, ketika salah seorang mahasiswa menanyakan faktualitas novelnya, kang Tohari mengulas sedikit mengenai novel itu. "Semua karya sastra tidak terlepas dari nilai-nilai dan fakta-fakta sosial yang melingkupinya. Termasuk novel saya."

Kang Tohari lantas menyebut beberapa kejadian nyata yang melatarbelakangi novelnya. Di antaranya adalah peristiwa sosial-politik berdarah pada tahun 1965, dan "tragedi tempe bongkrek". Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, tragedi keracunan tempe bongkrek telah merenggut banyak nyawa penduduk Dukuh Paruk, termasuk kedua orang tua Srintil, tokoh utama dalam novel itu.

"Dalam karya sastra," kata kang Tohari melanjutkan, "janganlah memperdebatkan faktualitasnya. Tetapi unsur-unsur estetik dan pengaruh psikologis yang ditimbulkannyalah yang menjadi hal utama."

Setelah dua pembicara tampil, giliran Gus Mus menyampaikan "tausiyah"-nya. Beliau menguraikan panjang lebar mengenai karya-karya sastranya, prinsip yang dianut dalam bersastra, serta komentar tokoh-tokoh budaya dan sastra Indonesia atas karya-karyanya.

Dalam bersastra, Gus Mus mengibaratkan karya-karyanya sebagai "balsem", dan karya sastrawan-sastrawan lain sebagai "resep dokter". "Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui dan menggunakan resep dokter. Namun, sekali digunakan bisa ces pleng. Balsem sebaliknya, digunakan oleh orang-orang kebanyakan dan untuk pelbagai penyakit. Maka khasiatnya pun sementara," katanya.

Menanggapi ulasan Redyanto mengenai kebersahajaan karya-karyanya, Gus Mus menjawab bahwa itu merupakan ungkapan lain untuk mengatakan tulisan-tulisannya "kurang canggih". "Apa yang diuraikan pak Redyanto mengenai karya saya sebenarnya merupakan sindiran secara halus. Yaitu bahwasanya karya-karya saya tidak canggih," katanya disambut gerrr para hadirin.

Gus Mus mengeluhkan para sahabatnya dari kalangan sastrawan dan budayawan yang tidak mau mengkritik sacara lugas karya-karyanya disebabkan "kekiaiannya". "Harusnya mereka menilai kekurangan-kekurangan dalam karya saya secara lugas, sehingga saya menjadi tahu mana kelemahannya. Dengan demikian saya dapat memperbaiki dan menyempurnakannya di masa mendatang."

Dalam menulis karya sastra, Gus Mus tergolong sastrawan yang "liberal" dan mbeling. Dia berusaha membebaskan karya-karyanya dari belenggu-belenggu tradisi, pakem, dan aliran-aliran dalam kesusastraan pada umumnya. Dia berpegang pada prinsip la ilaha illallah. Ini disebabkan bukan karena beliau tidak mengerti tentang ilmu kesusastraan, melainkan demi memudahkan penerimaan dan pemahaman bagi para pembaca.

"Buat apa membuat karya yang rumit dan berbelit-belit jika pembaca tidak memahaminya dengan baik. Karya sastra yang sederhana akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh khalayak pembaca secara luas," ungkapnya.

Yah, demikianlah "mazhab" K.H. Mustofa Bisri dalam bersastra: bersahaja, "liberal", dan membumi. Seminar ditutup dengan pembacaan puisi oleh beliau. [*]

Indahnya Merayakan Maulid Nabi


Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika.....


Demikianlah doa dan pujian dilantunkan oleh penghuni asrama IAIN “Walisongo” di kompleks Perumahan Depag, Ngalian, Semarang. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin Program Khusus (FU-PK) yang tengah berasyik-masyuk merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad s.a.w. Diiringi dengan tabuhan rebana yang merdu dan membahana, suasana pembacaan maulid malam itu menjadi semakin semarak, dengan tidak meninggalkan kekhusyukan.

Ya, selama beberapa hari terakhir ini—tanggal 1 s.d. 12 Rabiul Awal atau Mulud—kami memang mengadakan perayaan maulid Nabi. Peringatan maulid tersebut biasanya dilakukan dengan pembacaan doa dan kisah-kisah teladan Sang Nabi yang termuat dalam kitab al-Barzanji, al-Dhibai, Simtud Duror, dll. Perayaan semacam ini juga dilakukan oleh sebagian besar penduduk Muslim di daerah Pantura Jawa Tengah, seperti Rembang, Kudus, Jepara, Demak, Pekalongan, dll. Mereka menyebutnya sebagai muludan atau srakalan. Srakalan sendiri diambil dari kata asyraqal yang tecantum pada sebuah bait pujian dan doa bagi Nabi yang dilantunkan sembari berdiri:

Asyraqal Badru alaina fakhtafat minhul budur
Mitslu husnik ma roayna qaththu ya Wajhassurur.....

Perayaan maulid seperti ini bukanlah sekedar selebrasi yang tanpa makna. Di dalamnya terkandung pelajaran dan keteladanan yang dapat kita petik. Dengan pembacaan kisah-kisah teladan Sang Nabi, diharapkan kita dapat mengetahui secara lebih dekat akan perilaku, moral, dan perjuangan Nabi. Dengan demikian, hal itu akan menjadi suri teladan bagi kita, umatnya.

Di sisi lain, fenomena perayaan maulid juga merupakan aset seni dan budaya yang khas. Doa dan puji-pujian yang didendangkan pada ritual itu, yang diiringi pula dengan ketepak alat musik rebana, berpadu menjadi sebuah harmoni seni musik yang indah. Dan keindahan seperti ini dapat kita temukan secara serentak di bulan Mulud, di hampir setiap perkampungan di wilayah Pantura Jawa Tengah. Tidak semua daerah di Indonesia mempunyai tradisi seperti ini.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba-materialistis seperti sekarang ini, secercah kesejukan sangat didambakan. Pada srakalan kita menemukannya. Di sana, spiritualitas, seni, budaya, dan keteladanan berpadu menjadi satu. [*]